tulisan berjalan

Kontak Om Breeder (Pak Syam) WA 081280543060

Selasa, 24 Maret 2015

AHA Breeding Klaten : Tukang Burung, Berhutang Untuk Beli Burung (jalak Bali), Malah Bingung . . . . Lah . . . Piye to ?

Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9



Sore itu kang Gito tampak keheranan atas kejadian yang dialaminya. “Kok bisa ya . . . heran saya . . .kok bisa ya ?” gumamnya berkali-kali. “Saya benar-benar heran kok bisa. Uang yang satu juta itu kemana ya ? tanyanya kepada diri sendiri.

“Ada apa kang Gito, kok gemremeng sendirian ?” tanya Hari mengagetkan. “Eh kamu to Ri. Kaget aku . . . ini lo aku kehilangan uang satu juta,” kata kang Gito menerangkan. “Hilang di mana Kang ?” tanya Hari. “Nah itu yang aku bingung. Untung istriku belum tahu, kalau tahu . . . walah bakal ada perang baratayuda ini,” katanya panjang lebar.

“Loh . . .gimana to kang Gito ini kehilangan uang kok gak ngerti hilangnya di mana ?” kata Hari keheranan. “Lah kalau aku ngerti hilangnya di mana . . .ya nggak jadi hilang to Leee . . . cah stress tenan kamu ini,” jawab kang Gito geregetan. “Iyaa . . . iyaa . . .maaf kang,” kata Hari.

“La kejadiannya gimana to kang ? sambung Hari.

“Gini lo Ri ceritanya. Kemarin saya kan ditawari sepasang  burung jalak bali harganya 17 juta sepasang. Tapi saya gak punya uang sebanyak itu. Karena saya kepingin banget punya burung jalak bali, terus saya pinjam uang kepada Mas Haryo. Tapi dia hanya punya 10 juta, terus saya nambah lagi ngutang kepada mas Seno juga 10 juta. Setelah itu saya bayarlah burung itu sebesar 17 juta, sisanya kan 3 juta.  Trus saya masukkan ke dalam dompet.” Kata kang menceritakan.

“Oke . . . manteb, punya burung jalak bali dan masih punya 3 juta di dompet. Manteb kang !” komentar mas Hari.

“Manteb gundulmu itu Le .  .  . “! bentak kang Gito sewot.
“Iya . . .iya . . .maaf kang. Terus gimana kang ?” tanya Hari.

“Saya lanjutkan ya . . . terus sore harinya saya pikir-pikir kok sisanya masih banyak ya. Terus saya punya inisiatif untuk mengembalikan uang itu, masing-masing 1 juta kepada mas Haryo dan 1 juta kepada mas Seno. Biar besok mengembalikannya jadi agak ringan. Jadinya hutang saya kepada mas Hario menjadi 9 juta dan kepada mas Seno juga tinggal 9 juta. Sekarang saya punya sisa pengembalian tersebut cuma 1 juta. Padahal 9 + 9 = 18. Yang 1 juta itu lo ke manaaa . . . . ??? ” lanjut kang Gito.

 “Loh gimana sih kang Gito. Coba kita hitung lagi. Total hutang kan 10 juta + 10 juta. Jadinya 20 juta. Terus untuk membeli burung jalak bali seharga 17 juta, berarti masih sisa 3 juta. Terus kembalikan kepada mas Hario dan mas Seno masing-masing 1 juta. Nah 9 juta + 9 juta kan 18 juta, itu sekarang sisanya tinggal berapa ? tanya Hari tak kalah bingungnya.

"Satu juta" jawab kang Gito.  “Lah . . . kok bisa begitu . . . Yuk kita hitung lagi, biar jelas !” kata Hari mengajak menghitung bersama-sama.

“Oke sekarang kita hitung bersama-sama ya . . . 9 + 9 + 1 =  19” kata mereka serempak.  “Nah to . . . totalnya kan hanya 19 jt to . . . Kan harusnya 20 juta. Yang satu juta kemanaaaa . . .bingung saya ?” kata kang Gito makin kebingungan.

Di tengah kebingungan yang tak tentu arahnya itu datanglah si Danang,”Ada apa ini . . .ada apa . . .hah . . . ada apa ?” tanya Danang sambil ngeledek. “Ada apa . . . ada apa .  .gundulmu itu. Aku ini sedang pusing kok kamu malah bikin onar saja !” kata kang Gito diliputi emosi tingkat tinggi.

“Sabar kang . . .sabar . . .gitu saja kok marah, memang ada masalah apa ? tanya Danang menenteramkan kegalauan Kang Gito.

“Ini lo Nang, kang Gito kehilangan uang satu juta rupiah,” jawab Hari. “Wah kang Gito kehilangan uang satu juta rumah . . . dimana hilangnya.? tanya Danang tampak kaget.
Akhirnya Hari menceritakan pengalaman yang baru saja di alami pak Gito dari A sampai Z. “Ha . . . ha . . . ha . . . “ Danang tetawa terbahak-bahak. “Hai kok malah tertawa kamu Nang, bukannya sedih temannya kehilangan uang satu juta ?” tanya Hari. “Memang Danang itu bocah stress kok, dia seneng kalau ada orang susah. Dia sukanya menari di atas penderitaan orang lain,” kata kang Gito bersungut-sungut.



“Maaf . . .maaf kang Gito . . . . kok sensitive sekali to. Aku tertawa karena aku juga pernah mengalami kisah kayak gitu. Malah lebih parah. Karena ketahuan istriku akhirnya pecah deh perang baratayuda di rumahku. Saya hutang 10 juta malah hilang 16 juta,” jawab Danang. Kemudian dia menceritakan pengalamannya setahun lalu.

Waktu itu dia pingiiiinnnn banget memiliki kenari jagoan seperti si Bagong kenari milik mas Agus yang bisa dibawa ngamen ke berbagai lomba kicau. Lumayan sebulan bisa ikut lomba 3-4 kali. Sekali turun bisa mendapat 300 -750 ribu. Lumayan to ? Bahkan pernah sebulan turun turun full empat kali dan menggondol juara satu terus, total hadiahnya dapat tiga juta.
Danang ngiler mendengar cerita tersebut. Kemudian dia bermaksud membeli kenari F2 seharga 7 juta. Tapi sayang karena penangkaran kenarinya sedang surut dia tidak memiliki uang. Dia memutar otak,”Ahaiii .. . aku ada ide,” katanya sambil melompat “Yessss . . .!!!

Ide apa itu ? Jawabannya ada di dompet istrinya. Berhari-hari dompet istrinya menjadi sasaran. Dan kesempatan itupun akhirnya tiba juga. Dia mengambil dompet istrinya di lemari baju kamar tengah. “Wah ada 5 juta. . . masih kurang 2 juta nih,” bisiknya. Setelah itu dia meminjam uang kepada si Iwan juga 5 juta. Kelebihannya sebesar 3 juta mau dia buat beli amunisi untuk persiapan lomba bulan depan yaitu kandang yang bagus, estra fooding yang joss, kaos gambar kenari untuk dirinya dan tim soraknya.

Maka sore itu dia membayar kenari jagoannya. Setelah burung di bayar uangnya masih tersisa 3 juta. Kemudian dia pikir-pikir lagi. Sisa 3 juta kebanyaan ah . . .Maka diam-diam dia mengembalikan uangnya 1 juta ke dalam dompet istrinya. Dan 1 juta lagi dikembalikan kepada Iwan.

Tapi kok di dompetnya juga tinggal satu juta. Berkali-kali dia menghitung hutangya. Hutangnya 5 + 5 = 10. Dikembalikan 1 ke dompet dan 1 juta ke mas Iwan . kok ini sisanya tinggal satu juta. Dia menghitung lagi : 4 +4 = 8 . . .kok ini sisanya tinggal 1 juta . . .??? Yang 1 juta lagi kemanaaaa . . . ???

Di tengah kepanikan karena kehilangan uang satu juta . . . tiba-tiba dari jarak sekitar lima meter, ada sesosok perempuan paro baya berbadan gemuk mamakai daster hijau. “Kamu jadi tuyul ya sekarang . . .” teriaknya sambil memukul tubuh Danang berkali-kali. “Kamu nyolong duit saya di lemari ya,” katanya sambil terus memukuli suaminya dengan sapu lidi. Bahkan pukulannya semakin kencang saja. Danang babak belur . . .

“Ampun-ampun . . .ampun bune. Jangan mukuli terus,” kata Danang meminta ampun kepada istrinya yang kalap karena uangnya dia colong. Karena kalap uang hasil panen melinjo dicolong suaminya, dia tetap memukul suaminya. Tidak cukup sampai di situ bahkan dia juga menyabet kurungan burung kenari yang tergantung di sebelahnya, sampai berantakan. Dan burung kenari F1 yang baru saja dibeli Danang ngacir ke pohon mangga depan rumah.

“Wah tujuh juta . . .terbang . . .,” teriak Danang. “Hah . . . jadi uang sebanyak  itu kamu belikan burung itu  kang . . .? kata istrinya menjerit.

Rabu, 18 Maret 2015

AHA Breeding Klaten : Penangkar Burung Jalak Bali Klaten : Tukang Burung Terdampar di Stasiun Purwokerto


Sebagai tukang burung, saya biasa wira-wiri naik kendaraan umum menyinggahi berbagai kota di pulau Jawa. Selama ini saya memang seringnya gak sampai hati jika mengirim burung pakai jasa pengiriman hewan pada umumnya. Gak tahu kenapa begitu. Rasanya gak enak saja.

Selama masih bisa dijangkau oleh kereta api, atau didatangi dengan perjalanan darat lainnya, saya sering mengantarkan burung jalak bali pesanan konsumen sampai ke alamat. Konsekwensi atas pilihan ini maka saya sering wira-wiri alias bolak-balik naik kendaraan umum, terutama kereta api.

Sebenarnya saya paling senang jika pembeli memiliki waktu untuk datang sendiri ke gubug saya di Klaten. Dan Alhamdulillah memang banyak juga penggemar burung jalak bali yang mampir ke gubug saya. Biasanya mereka sekalian melihat-lihat kandang penangkaran burung jalak bali saya, nanya-nanya cara merawat burung jalak bali, ingin melihat langsung bagaimana cara menyuapi burung-burung jalak bali yang masih berusia dini dan lain-lain.

Tentu saja selama menjalani aktivitas wira-wiri tersebut, ada banyak pengalaman yang layak untuk saya catat. Salah satunya yang saya alami awal pekan ini.
Seperti biasanya sore itu saya diantar istri dan ditemani si bungsu, Azzam ke Stasiun Kereta Api Klaten. Sore itu saya akan berangkat ke Jakarta.

Berkereta dengan tujuan ke Jakarta, dalam beberapa bulan ini saya biasa pakai kereta api Senja Utama Jogjakarta. Saya pilih kereta ini karena jam keberangkatannya yang enak yaitu pukul 20.30 dari stasiun Tugu Jogjakarta dan sampai di Stasiun Jakarta Pasar Senen menjelang pukul 5 pagi. Menurutku ini waktu yang pas untuk bepergian ke Jakarta. Kalau ikut kereta lain, sampainya di Jakarta kepagian, masih gelap  . . . ngerii . . . banyak kejahatan. Kalau sampainya kesiangan, panas . .. ngerii . . .macet . . . he he he . . .

Setelah membeli tiket kereta api Lodaya (untuk transit di Jogjakarta) saya masih ada waktu untuk bercengkerama dengan istri. Tak lama kemudian ada pengumuman kereta api Lodaya akan segera masuk ke jalur satu. Penumpang berjejal memasuki pintu kereta api jurusan Bandung itu.

Di sore yang cerah itu kereta api Lodaya membawaku menuju stasiun kereta api Tugu Jogjakarta. Setelah selesai sholat isya seperti biasanya saya menyempatkan diri untuk pijet terlebih dahulu beberapa saat. Sejak dilakukan perbaikan managemen di PT. KAI kini di Stasiun Tugu Jogjakarta terdapat tiga corner yang menyediakan kursi pijat elektronik. Murah meriah, hanya dengan selembar uang sepuluh ribu rupiah kita bisa melepaskan ketegangan otot-otot kita selama sepuluh menit. Saya hampir ajeg memanfaatkan jasa pijet ini, lumayan untuk sekedar relaksasi dan melenturkan otot-otot punggung.

Tak lama kemudian kereta api Senja Utama Jogjakarta siap meluncur membawa penumpang menuju Jakarta. Sekitar setengah jam kereta meluncur. Kondektur memasuki gerbong enam tempat saya duduk, untuk melakukan pemeriksaan tiket. Tiket saya berikan. Agak lama kondektur memandangi tiket. Ini gak biasanya. Kemudian dengan tenang dia mengatakan,”Tiketnya salah pak. Ini tiket kereta api Senja Utama Solo yang berangkat pukul enam sore tadi.”

Dengan rasa tidak percaya saya minta tiket tersebut. Kemudian saya pelototi, alamaaak . . . teryata memang benar ini tiket kereta api Senja Utama Solo. Wah saya salah naik kereta dong . . .

Pak kondektur mengatakan bahwa saya harus turun dari kereta Senja Utama Jogjakarta ini, karena saya tidak memiliki tiketnya. “Gimana pak mau turun di Stasiun Wates atau Stasiun Kutoarjo ?” tanya Kondektur. “Kutuarjo saja pak,” jawab saya singkat. Saya memilih untuk turun di Stasiun Kutoarjo dengan niat untuk membeli tiket lagi, seadanya tiket kereta api merk apa saja gak masalah asalkan jurusan ke Jakarta.

Saya diminta untuk pindah ke gerbong restoran . . . biar gampang memantaunya . . . sebagai pesakitan saya, saya tidak terlalu terpengaruh dengan kasus ini . . .

Menjelang Stasiun Kutoarjo kondektur menghampiri saya,”Maaf pak, saya lupa Kereta Senja Utama Jogjakarta tidak berhenti di Stasiun Kutoarjo, tapi berhentinya di Stasiun Gombong. Gimana pak , apa sekalian turun di Stasiun Purwokerto saja ?!” Saya menyetujui sarannya, mengingat Stasiun Gombong adalah stasiun kecil sehingga peluang untuk bisa mendapatkan tiket ke Jakarta semakin kecil

Sekitar pukul 23.00 saya sampai di Stasiun Purwokerto. Begitu kereta berhenti saya langsung berlari ke loket dengan menyerobot melalui pintu masuk. Segera saya menuju loket satu dengan harapan bisa mendapatkan tiket kereta Senja Utama Jogjakarta yang barusan saya tumpangi. Namun nasib berkata lain, saya tidak mendapatkan tiket kereta itu. Juga kereta-kereta lain yang menuju ke Jakarta.

Terlintas dalam benak saya untuk mencari penginapan di Kota Purwokerto dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta esok hari dengan menggunakan kereta Fajar Utama Jogjakarta atau Sawunggalih Pagi. Namun niat itu saya urungkan.

Stasiun Purwokerto, dini hari

Tiba-tiba saya ingin balik ke Klaten saja. Maka malam itu saya tidak jadi melanjutkan perjalanan ke Jakarta dan balik lagi ke Klaten dengan menggunakan kereta api Argo Lawu.

Gema adzan subuh menghias langit Klaten, saat saya kembali menjejakkan kaki di stasiun yang aku tinggalkan maghrib kemarin. Dua rokaat di musholla stasiun ku lalui dengan mata yang berat. Tak lupa wirid ku lantunkan, dan sepenggal do’a ku panjatkan kepada Ilahi Robbi. Kemudian dengan diantar tukang ojeg saya meluncur ke rumah.

Suasana lengang saat memasuki kampungku kembali. Dengan ditemani sayup-sayup suara adzan yang telat dikumandangkan saya terhenti sejenak di teras rumah. Rupanya istri dan anak-anak saya belum bangun. Saya mau mengetuk pintu agak ragu, karena ini pasti akan mengagetkan mereka. Persis di depan pintu, saya menelepon istri saya . . .

Saya diberondong berbagai pertanyaan oleh istri dan ketiga anak saya, ada apa kok balik lagi ? Anak saya yang nomor tiga biasanya paling susah dibangunkan subuh, pagi itu nampak kaget,”Saya kira tadi ada perampok,” celetuknya disambut tawa seisi rumah. “Sudah sana ke masjid dulu, mumpung belum komat,” kata saya kepada anak-anak. erekapun berangkat menuju masjid yang berjarak sekitar tiga ratusan meter dari rumah kami.

Dan pagipun menjelang. Semburat kekuningan memancar dari ufuk timur. Burung-burung ramai bersahutan membelah pagi, seakan tidak terpengaruh oleh gerimis pagi yang mulai berjatuhan. Mata hari enggan menampakkan kegairahannya, maklum musim penghujan. Namun sekalipun hari-hari di musim ini nampak kurang bergairah, bagi kami para penangkar burung, musim hujan adalah musim berkah. Di musim ini burung-burung cenderung aktif berproduksi, kecuali burung-burung yang tidak tahan dingin seperti burung kenari, love bird, dan berbagai jenis burung impor khususnya dari Afrika. Maka bagi penangkar burung jenis jalak, cucak rawa, kacer, dan murai batu, musim penghujan adalah musim datangnya rejeki . . .

Tak terasa setengah hari saya lalui hariku bergelut dengan urusan kandang. Memberi pakan, mengganti air mandi burung, mengecek telur dan beberapa kali menerima telepon soal burung jalak bali dan membalas WA yang masuk ke telephon. Itulah hari-hariku saat saya berada di rumah.

Siang hari sambil menjemput anak pulang sekolah saya mampir ke stasiun untuk membeli tiket kereta api Senja Utama Jogjakarta. Alhamdulillah tiket masih banyak, maklum ini hari Senin tiket kereta jurusan ke Jakarta dan Bandung memang masih banyak. Beda dengan hari Minggu. Di hari Minggu tiket kereta api dengan tujuan ke dua kota tersebut selalu ludes, bahkan  beberapa pekan sebelumnya.

Minggu sore saya berangkat lagi. Malam itu saya kembali menyusuri rel kereta yang sama. Dengan menggunakan kereta yang sama, namun Alhamdulillah dengan nasib yang berbeda dengan perjalanan sehari sebelumnya.

Saat pemeriksaan tiket dan melintasi stasiun Wates saya kembali teringat pada dua momen yang telah memberiku “pencerahan” dalam hidupku kemarin; di mana hidup ini memang tidak sepenuhnya pararel dengan kehendak kita. Ada saatnya kita bakal dihadapkan pada kondisi yang sama sekali tidak kita kehendaki. Maka menyiapkan mental untuk bisa menerima semua keadaan yang terjadi, menjadi “lifeskill” yang semestinya kita miliki. Apa lagi sebagai tukang burung, hal itu sangat penting . . . agar kita bisa menjadi tukang burung yang tahan banting.

Duduk di sebelah saya, sebut saja Pak Rudi. Beliau baru tiba dari Temanggung untuk urusan mobil innova miliknya yang digadaikan temannya tanpa sepengetahuannya. Dua belas hari beliau melacak temannya yang awalnya beliau ketahui berdomisili di Bantul Jogjakarta, namun ternyata sekarang sudah menjadi Lurah di salah satu desa di Kabupaten Temanggung itu. Urusan mobil tidak selesai, beliau kehabisan bekal karena harus hidup di rantau orang tanpa sanak tanpa family, akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke Pamulang Tangerang Selatan dengan tangan hampa. Dalam hati saya bersyukur tidak mengalami kejadian seberat beliau.

Minggu, 15 Maret 2015

AHA Breeding Klaten : Penting Untuk Semua Penghobi Burung Jalak Bali


Sehubungan dengan maraknya penipuan secara online, termasuk penipuan dengan modus jual beli burung, dengan ini kembali kami mengingatkan saudara-saudaraku penghobi burung agar senantiasa berhati-hati dalam melakukan transaksi.

Jangan lupa untuk selalu melakukan kontak langsung dengan penjual atau pembeli, jangan bosan untuk terus melakukan check and recheck. Ini terutama jika penjenengan dalam posisi sebagai pembeli dan sudah positif akan mentransfer uang pembayaran burung.

Wabil khusus kepada saudara-saudaraku yang akan membeli burung jalak bali ke penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" kami selaku pemilik dari penangkaran tersebut memberitahukan hal-hal berikut :

1.       Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" tidak memiliki cabang ataupun agen di tempat lain dan hanya memiliki satu tempat penangkaran yaitu di kota Klaten Jawa Tengah;

2.      Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" tidak memiliki team pemasaran, selama ini pemasaran hanya berada di tangan satu orang saja yaitu bapak Syamsul Hadi alias pak Syam;

3.      Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" hanya menggunakan no hp milik pak Syam yaitu 081280543060, 087877486516. WA 081280543060 Pin BB. 53E70502, 25D600E9;

4.      Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" tidak melakukan deal dalam transaksinya kecuali dilakukan melalui kontak langsung dengan pak Syam terlebih dahulu;

5.      Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" dalam bertransaksi   hanya menggunakan rekening bank tertentu. Nomor rekening bank akan kami sampaikan setelah ada kesepakatan antara kami sebagai penjual dan Saudara sebagai pembeli;

6.      Untuk itu jika Saudara akan membeli burung jalak bali ke penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" maka pastikan bahwa Saudara benar-benar mengontak pak Syam ( bukan orang lain ) dan pastikan bahwa saat Saudara mentransfer pembayaran burung, Saudara mentransfer ke nomor rekening bank yang kami sampaikan ( bukan nomor rekening yang lain );

7.      Jika ada transaksi yang mengatas-namakan penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" namun tidak sesuai dengan ketentuan di atas, maka bisa dipastikan bahwa transaksi tersebut bukan dari kami. Sehingga segala konsekwensi yang timbul otomatis tidak menjadi tanggung jawab kami.

8.     Transaksi paling aman adalah COD alias copy darat, yaitu datang ke tempat saya di Klaten, tapi jika tidak memungkinkan, terpaksa melalui jalur online dengan tetap tidak meninggalkan kewaspadaan. Sekian terima kasih. Salam kicau !!!







Rabu, 25 Februari 2015

AHA Breeding Klaten : Kisah Tentang Burung Pleci Yang Matanya Buta Sebelah, dari Sang Penangkar Burung Jalak Bali


Oleh pak Syam ( penangkar burung jalak bali klaten )

Alkisah, seorang penangkar burung jalak suren bersepeda kumbang pergi menuju pasar burung terdekat. Dia berharap bakal ada temannya sesama kicau mania yang bersedia mentraktirnya barang  secangkir dua cangkir kopi.  

Dia pergi dengan gontai, setengah putus asa, karena musim kemarau ini tak satupun telur jalak suren di penangkarannya yang menetas. Telur-telur burung jalak surennya pada kopong. Secangkir kopi mungkin bisa mengusir kesumpekan hatinya.

Sudah cukup lama ia tidak mendapatkan penghasilan dari penangkarannya yang sederhana itu. Beras untuk keluarganya kadang tak terbeli. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, apa lagi mainan. Untung istrinya bisa memahami kondisi ini. Meski begitu risau hati sang penangkar tak bisa ditahan, karenanya ia tidak yakin kalau kepergiannya ke pasar burung kali inipun bakal bisa mengusir kegalauan hatinya . . . . . .

Ketika laki-laki itu tengah melewati jalanan sepi, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh mengenai kepalanya. Kontan dia berhenti dan meraba kepalanya, “Lo kok basah ?” katanya. Dia mendongak ke atas. Rupanya di atas dahan pohon akasia, seekor burung pleci duduk dengan santai. Seekor burung pleci kaca mata yang buta mata kirinya, sedang menikmati semilir angin di siang itu. Dia buang kotoran, persis di saat sang penangkar burung lewat di bawahnya . . .

Instingnya sebagai kicau mania langsung tertantang. Dengan sekali lompat tangan lelaki itu berhasil menangkap burung pleci tersebut. “Syukurlah ada rejeki kali ini, saya bisa menjualnya seharga tujuh ribu rupiah atau delapan ribu . . . ,” katanya pada diri sendiri.

Sebuah mobil mewah yang berhenti di sampingnya, telah membangunkannya dari lamunan indah tentang uang tujuh ribu. Setelah kacanya terbuka seorang supir melongok keluar dan menawarkan seekor kucing persia yang sangat cantik untuk diberikan secara cuma-cuma. Sang penangkar burung itu merasa ragu, masak kucing secantik itu diberikan secara cuma-cuma. Untuk menepis keraguannya dia menawarkan barter dengan burung pleci miliknya. Di luar dugaan, ternyata sang Nyonya pemilik mobil yang duduk di sebelah sopir menyambutnya dengan antusias, " Bagus banget burungnya  . . . kecil imut-mut". Barterpun terjadi.

Sang penangkar burung itu melanjutkan perjalanannya menuju pasar. Baru beberapa menit dia mengayuh sepeda kumbangnya, sebuah mobil melintas. Demi dilihanya orang bersepeda membawa keranjang tas plastic wadah kucing, dia menghentikan kendaraannya. “Pak dijual berapa kucingnya ?” tanya si pengendara mobil. “Tujuh ratus ribu pak’” kata sang penangkar burung dengan ragu-ragu. “Sini saya bayarin,” kata si pemilik mobil. Kaget juga si penangkar karena harga yang dia sebutkan langsung disetujui tanpa di tawar lagi.


Dan satu lagi, sebelum kendaraan itu pergi, dia memberian seekor burung putih kepada sang penangkar. “Tadi waktu saya melintas ada burung menabrak kaca depan mobil saya, sampai pingsan. Terus saya ambil sekarang sudah sehat kok, ambil saja pak,” kata si pemilik mobil terus berlalu.

“Wouw seekor burung jalak bali . . .??? Benarkah ini seekor burung jalak bali . . . ??? . . . Mimpi apa aku semalam kok tiba-tiba saya mendapatkan burung yang sudah sangat lama saya impikan ini . . . bertahun-tahun saya memimpikan burung ini, tapi sampai saat ini aku baru mampu menangkar burung jalak suren. Hari ini saya mendapatkan impiannya saya tanpa pernah saya duga . . . terima kasih ya Allah . . .Kemudian sang penangkar burung sujud syukur . . .

Dengan hati yang berbunga-bunga dia memutar arah sepeda kumbangnya menuju rumah. Dia lupakan manisnya kopi di warung Lik Kijan tengah pasar burung, langganannya. Dengan senyum yang mengembang dia pacu sepeda kumbangnya menuju rumah sambil membawa duit tujuh ratus ribu rupiah untuk istri tersayang. 

AHA Breeding Klaten : Menjual Burung Jalak Bali Dengan Metode Tong Sampah


oleh pak Syam ( penangkar burung jalak bali Klaten )

Memasuki dunia kicau, berarti memasuki dunia serba warna. Di sana anda akan bertemu dengan orang dalam berbagai warna fikiran dan sikapnya. Ada yang murah senyum baik hati dan tidak sombong, seperti pak Syam ini . . .he he he . . .piss. . . Ada yang tidak murah senyum, tidak baik hati namun juga tidak sombong. Ada yang memiliki etika tinggi, ada yang tidak memiliki basa-basi, ada yang jujur, ada yang suka berbohong bahkan menipu. Makanya penipuan berkeduk jual beli burung di jagat maya cukup marak to ?

Ada juga kicau mania yang bermental juragan yang maunya main perintah saja saat membeli burung. Mintanya burung yang bagus tapi maunya bayar murah. Ada yang sukanya hanya iseng, banyak nanya tapi kalau nawar burung pelit banget. Dan sebaliknya banyak juga kicau mania yang berperilaku baik, berfikir lurus, tidak asal menang sendiri dalam bertransaksi dan seterusnya.

Begitulah kira-kira, beraneka ragamnya dunia kicau mania. Jika anda berminat untuk memasuki area ini, misalnya dengan menjadi seorang penangkar burung maka anda harus bersiap untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berkarakter seperti di atas. Saya sampaikan ini agar anda bersiap-siap. Karena sebagai penangkar burung kesiapan anda untuk berinteraksi dengan berbagai ragam orang, akan sangat menunjang keberhasilan penangkaran anda. Salah satunya memuluskan langkah pemasaran burung hasil produksi penangkaran anda.

Beberapa orang pernah bertanya tentang kiat memasarkan burung jalak bali ke konsumen. Mereka melihat bahwa penulis termasuk salah satu penangkar yang tidak sekedar berhasil menangkarkan burung jalak bali, namun juga sekaligus berhasil dalam meng-create pasar burung jalak bali. Penulis senyum-senyum saja pendengar pujian seperti itu . . . .

Menurut mereka memasarkan burung jalak bali tergolong sulit. Sangat berbeda dengan memasarkan burung kenari. Karena seorang penjual burung kenari, menjual burung kenari sepuluh ekor perhari, bukan pekerjaan yang berat. Beda dengan menjual burung jalak bali. Seorang penjual burung jalak bali bisa menjual empat pasang perbulan, sudah lumayan. Kok bisa begitu ? Kata beliau aspek utama kesulitan menjual burung jalak bali karena harganya yang masih tinggi.


Memang kalau kesulitan menjual burung jalak bali dikaitkan dengan harga burung jalak bali yang tinggi, sepintas memang terlihat berhubungan. Taruhlah harga sepasang anakan burung jalak bali sepuluh juta rupiah, sementara anakan burung kenari lokal harganya seratus ribu rupiah. Maka dengan keberadaan isi kantong yang pas-pasan orang akan memilih untuk membeli burung kenari dari pada burung jalak bali. Mungkin begitu logikanya.

Tapi secara pribadi kami kurang setuju dengan pendapat ini. Karena dia menyederhanakan motif orang dalam membeli burung hanya pada faktor isi dompet. Padahal sering kali motif hobi sebagai penangkar lebih mendominasi dibandingkan dengan berapa jumlah duit di dompet.

Pengalaman kami dalam menjual hasil penangkaran burung jalak bali mementahkan argument itu. Selama menekuni penangkaran burung jalak bali dan menjual hasil tangkaran kami tidak menemukan faktor harga sebagai penghambat para penggemar burung jalak bali untuk mengurungkan niatnya dalam mengoleksi burung kesayangan itu.

Kami selama ini tidak pernah membanting harga sebagaimana dilakukan oleh beberapa penjual burung jalak bali ( terutama non penangkar ) dalam merebut hati pembeli burung jalak bali. Karena kami justru berkesimpulan bahwa salah satu keunggulan burung jalak bali sehingga menarik minat para penggemarnya salah satunya justru terletak pada faktor harga yang tinggi itu.

Sangat tidak masuk akal, burung eksotic yang dinyatakan langka dan telah masuk Apendic 2 dalam daftar CITES ( lembaga perdagangan satwa dunia ) sebagai burung yang sudah mendapat ancaman dari kepunahan, kok berharga murah. Iya to ?

Selasa, 24 Februari 2015

AHA Breeding Klaten : Kontak Baru Pak Syam Penangkar Burung Jalak Bali Klaten

Bagi teman-teman penghobi burung jalak bali, yang memerlukan nomor kontak penangkar burung jalak bali bisa menghubungi nomor hp pak Syam penangkar burung jalak bali Klaten di bawah ini.

inilah nomor kontak pak syam penangkar burung jalak bali klaten


keluarga besar pak syam, keluarga penangkar burung jalak bali klaten


ngudang piyik burung jalak bali


kaum hawa, kadang lebih prigel ngloloh anakan burung jalak bali dibanding kaum adam


ngloloh anakan jalak suren, anak kecilpun bisa


anakan burung jalak bali, kadang minta diloloh tiap 2 jam sekali


saat-saat indah, saat-saat memasarkan burung jalak bali


rehat dalam hidup, kesibukan merawat jalak bali, tak boleh melupakan ziarah ke tanah suci


untuk bisa wukuf di arofah, burung jalak bisa menjadi wasilah


tanahnya gersang, tak secantik burung jalak bali, tapi berkahnya melimpah ruah


Rabu, 04 Februari 2015

AHA Breeding Klaten : Menghindari Penipuan Dalam Transaksi Burung Jalak Bali

Oleh : Pak Syam (Penangkar Burung Jalak Bali Klaten)

Penipuan burung cukup marak terjadi di masyarakat kita. Yang lazim terjadi modusnya lewat jual beli burung. Dan terutama jual beli burung yang dilakukan secara online.


Penipuan di dunia burung sebenarnya bukan hal istimewa. Karena riilnya penipuan tidak hanya terjadi di dunia burung saja. Penipuan telah menyebar di semua sektor. Coba datanglah ke pasar kambing. Beractinglah layaknya seorang pembeli kambing beneran. Jika kualitas acting anda bener-bener mirip jurkam (juragan kambing) Anda bakal menemukan begitu banyak penjual kambing yang kurang jujur saat mempromosikan kambing miliknya. Promosi yang sudah dicampur kebohongan tentunya.


Anda mau beli motor ? Setali tiga uang dengan kasus kambing di atas.  Kunjungilah salah satu show room motor bekas di kota anda. Andapun potensial ketemu calo. Jika anda tidak berhati-hati anda bakal di giring untuk membeli motor yang tidak bener dan dengan harga yang tidak  bener pula. Motor yang mesinnya sudah dipreteli, dengan bodi yang digosok kinclong, sudah cukup alasan bagi para calo untuk memasang harga sampai sundul langit sambil mengatakan “Ini orisinil mas !”

Anda mau ngurus sertifikat tanah, membuat akte pendirian usaha, mengajukan ijin pendirian bangunan, memasukkan proposal tender proyek, masuk industri garmen, kulakan besi, beli sayur mesti hati-hati karena semua itu bisa menjadi sarana penipuan. Karena penipuan berpeluang terjadi di semua sector, barang maupun jasa. Jadi sekali lagi penipuan bukan menjadi monopoli dunia perburungan saja, apa lagi dunia perburungan online.

Dalam beberapa hari  ini saya mendapat beberapa pengaduan dari orang-orang yang ditipu saat bertransaksi burung. Sebenarnya rata-rata modusnya masih modus lama. Misalnya begini. Si A menawarkan burung jalak bali dengan harga miring banget bahkan hanya sekitar 30% dari harga dimana saya biasa menjual yaitu hanya sekitar 3,5 juta sepasang. Kemudian calon pembeli melakukan tawar menawar.

Setelah deal dan disepakati cara pembayaran dengan model transfer, dijanjikan kepada pembeli bahwa burung akan dikirim hari itu juga. Namun setelah uang ditransfer, kiriman burung tidak kunjung datang. Dan celakanya nomor hp-nya sudah tidak bisa dikontak lagi.

Sebenarnya penipuan ini bermodus lama. Tapi yang aneh masih ada saja orang yang kena tipu. Dan jangan lengah penipuan ini juga berpeluang menimpa kita. Di mana sebenarnya “kehebatan” dari penipuan ini sehingga masih saja bisa memangsa korban-koran baru ?

Sebelum menjawabnya saya teringat pesan bang napi dalam iklan layanan masyarakat yang ditayangkan salah satu stasiun televisi suasta beberapa tahun lalu. Pesannya begini “Ingat kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan . . .waspadalah . . . waspadalah . . . !


Dari beberapa kasus yang saya cermati, saya melihat bahwa beberapa korban penipuan di dunia online, karena “salahnya korban sendiri”. Setidaknya karena adanya andil dari sang korban. Di mana sang korban menyediakan diri untuk masuk ke dalam perangkap si penipu. Umpan paling efektif untuk menjerat calon korban adalah harga burung yang miring. Dan ini yang sering terjadi.



Si penipu tahu betul bahwa kebanyakan dalam membeli burung umumnya orang hanya berpatokan pada harga burung saja. Soal kualitas burung apa lagi legalitas burung (untuk burung-burung yang dilindungi) sebagian besar tidak perduli. Mereka hanya berfikir soal harga. Asal harganya murah ( dengan diembel-embeli burungnya bagus) maka akan dia beli.

Karena focus mereka pada harga burung maka begitu mendapatkan tawaran via internet misalnya harga sepasang jalak bali bersertifikat hanya tiga juta lima ratus ribu rupiah perpasang, maka mereka menjadi sangat antusias. Antusiasme inilah yang digarap lebi lanjut oleh penipu tersebut.

Begitu antusiasme calon korban sudah terbaca oleh sang penipu maka si calon korban akan semakin digarap. Misalnya dengan mengatakan cukup kasih uang muka 50% saja, Ini artinya dengan uang 1,75 jt saja anda sudah bisa memiliki sepasang jalak bali. Coba siapa yang tidak ngiler ? 

Setelah itu pada saat pengiriman tiba-tiba ada kabar dari fihak ekspedisi yang menagih premi asuransi sebesar 50%. Ketika ditanyakan kok pakai bayar premi asuransi segala dan besarnya kok sampai 50% ? Fihak ekspedisi abal-abal tersebut bilang bahwa ini memang ketentuan di ekspedisi kami. Perdebatanpun tidak bisa dihindari. Dan selanjutnya anda sudah bisa menebak sendiri bagaimana jalan ceritanya. Silakan dilanjutkan sendiri ya . . . .

Saya ingin menyampaikan bahwa, saat anda ingin membeli burung jalak bali dengan tujuan untuk ditangkarkan sebenarnya soal pembelian burung, itu hanya salah satu aspek saja. Jika anda ingin menangkarkan burung dengan aman nyaman dan berhasil dengan baik, ada beberap aspek yang mesti anda penuhi. Berikut ini saya paparkan beberapa di antaranya.

Pertama; kelayakan burung untuk di tangkarkan. Ini menyangkut kesehatan dan kondisi burung ( tidak cacat). Ini mutlak. Anda tidak bisa berharap pada burung yang sedang sakit untuk bertelur. Anda juga tidak disarankan untuk menangkar burung yang cacat permanen. Karena bakal mengganggu jalannya penangkaran anda.

Kedua; legalitas burung. Jika anda membeli burung-burung yang dilindungi maka pastikan burung yang anda beli statusnya legal. Pastikan bahwa burung yang anda beli memiliki sertifikat. Yang kedua pastikan bahwa sertifikat burung tersebut asli bukan abal-abal. Karena di pasaran tidak sedikit beredar sertifikat burung yang kelihatannya asli tapi ternyata palsu.

Bagaimana cara mengecek sertifikat seekor burung misalnya jalak bali asli atau palsu ? Pertama minta ditunjukkan sertifikatnya. Lihatlah . . .  dengan menggunakan insting anda cobalah untuk mencermati. Kira-kira sertifikat seperti ini asli atau palsu. Tunggu komentar dari suara hati terdalam anda “Ooo ini kayaknya asli . ..atau  . . .ini kayaknya kok tidak meyakinkan, saya ragu kalau sertifikat ini asli . . .masak kayak begini asli . . .”. Percayalah dengan kata hati anda. Kedua; kenali nama farm dari penangkarnya. Lakukan check and recheck ke panangkarnya. Anda bisa menghubungi nomor telepon yang tercantum dalam sertifikat tersebut. Ketiga; lakukan penelitian terhadap sertifikatnya. sebagai mana contoh dalam sertifikat berikut.