tulisan berjalan

Kontak Om Breeder (Pak Syam) WA 081280543060
Tampilkan postingan dengan label 5. Ngajinya Tukang Breeding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 5. Ngajinya Tukang Breeding. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2016

Tukang Burung Jalak Bali Militan Mau Puasa Ramadhan Sebulan Byuh . . .Byuh Top Nan



Sebagai tukang burung jalak bali yang militan baik hati dan tidak sombong dia meyakini bahwa, agama islam itu berarti jaminan mutu. Byuh . . .byuh . . . apa maksudnya ini ?

Islam itu mutu, berislam artinya bermutu, begitu prinsip dia. . . . top tenan ya tukang burung jalak bali ini nek kadung ngoceh he he he . . .

Jangan heran, apa lagi kaget ya . . . Biasa saja, soalnya ini sudah menjelang Bulan Ramadhan. Gak usah kaget, kalau si tukang burung jalak bali ini mendadak sholih. Itu biasa, kalau sudah mendekati Bulan Ramadhan memang biasanya si tukang burung jalak bali ini sudah mulai agak-agak religius gitu. 

Ini gejala normal saja. Tahun-tahun kemarin juga begitu. Kan umumnya orang Indonesia memang begono. Di bulan lain santai-santai, terus di bulan ramadhan mendadak sholih. Pakai sarung, baju koko dan kopiah. Begitulah penampakan baru si tukang burung jalak bali ini, Ramadhan adalah masa untuk bersholih-sholih ria. Tapi lumayanlah setidaknya tukang burung jadi tambah ganteng sekarang, awet nom . . .

Makanya sekarang ini di penghujung Bulan Rajab ini, benih-benih kesadaran sudah mulai tumbuh di hamparan hati tukang burung jalak bali ini. Dugaan saya benih itu akan terus tumbuh memenuhi hatinya, sampai puncak kesolihannya di pekan pertama Bulan Ramadhan kelak. Setelah itu layu. 

Hadeuh sayang sekali ya  . . . layu . . . semangat hanya sampai pekan pertama Ramadhan saja . . . setlah itu layu, bagai sekuntum bunga yang tidak disiram . . . sayang sekali ya . . .

Biasanya sih yang sudah-sudah begitu, di awal-awal semangatnya tinggi banget melebihi pucuk pohon kelapa samping masjid. Setelah melewati pekan pertama semangatnya terus layu, layaknya kuncup mawar yang tak pernah disiram. Dan pelan namun pasti mulai menghilang . . .hadeuh . . .

Awal-awalnya sih top banget. Sampai pekan pertama Bulan Ramadhan biasanya si tukang burung sangat religius. Siang harinya berpuasa sampai lemes, sholat berjamaahnya rajin banget, habis sholat berjamaah disambung sholat rowatib terus dilanjut tilawah al qur’an. Pokoknya sampai lemeesss . . .

Wah hebat dong  ? 

Di pekan pertama Bulan Ramadhan ini si tukang burung jalak bali juga sangat berkeinginan untuk menghindari yang maksiat-maksiat gitu. Bukankah meski setan-setan sudah dibelenggu kemaksiatan juga masih berseliweran di sekitar kita ? 

Maka untuk mensiasatinya si tukang burung jalak bali ini biasanya memperbanyak tidur. Katanya ini adalah strategi paling cocok buat dia dalam menghindari maksiyat. Inilah ramuan resep menghindari maksiyat yang maknyos, racikan hasil dari mendengarkan ceramah para ustadz dadakan yang kultum di masjidnya . . .. . . weleh . . . weleh . . .jos tenan . . . solusi yang rodo ngeri-ngeri sedap. Lanjutkan . . . !!!

Sudah cukup ? Oooo tentu saja masih belum cukup . . . 

Malam harinya tukang burung jalak bali ini ke masjid paling duluan. Dia selalu ngincer shof pertama. Padahal di pekan pertama Bulan Ramadhan sholat tarawihnya selalu berjejal sampai masjid tidak mampu menampung jamaahnya. Di pekan pertama Bulan Ramadhan ini mesjid-mesjid seakan-akan pada mengecil semua. Ruangan di dalam masjid menjadi sesak, gak kayak biasanya. Tapi walaupun kondisinya sesak, masih bisa ditembusnya dengan gampang. Hanya dengan mengandalkan sedikit potensi militansinya si tukang burung jalak bali selalu mendapatkan tempat di shof pertama. Lengkap sudah religiusitas dirinya. Puasa sudah, terawih juga sudah . . . mantab !

Tepuk tangan dong untuk tukang burung jalak bali yang militan baik hati dan tidak sombong ini . . .

Itulah biasanya yang dilakukan si tukang burung jalak bali pada pekan pertama Bulan Ramadhan. La terus pada pekan berikutnya gimana ? 

Kalau soal ibadahnya di pekan kedua sampai akhir bulan Ramadhan jangan tanya . . . Apa lagi ibadah di Bulan Syawal . . . gak usah tanya-tanya deh . . . gak enak saya jawabnya . . . ihik . . .ihik . . . ihik . . .jadi malu mau cerita . . . .Ah yang lalu biarlah berlalu la ya . . . gak usah diceritakan lagi . . .

Itu cerita masa lalu waktu si tukang burung jalak bali belum pernah makan taklim. Itu cerita jaman dulu waktu si tukang burung belum menjadi militan baik hati dan tidak sombong seperti sekarang ini. 

Kalau sekarang sih dia sudah berubah. Sekarang dia rajin taklim . . .liqo’ . . . tahu nggak kamu taklim liqo’ itu. Itu lo ngaji yang di masjid-masjidnya anak kuliahan dan masjid-masjid kota. Sekarang sudah masuk kampung lo . . . 

Makanya sekarang si tukang burung jalak bali sudah bertaubat dari masa lalunya. Sekarang dia sudah menjadi manusia baru yang jauh lebih bermutu. Sekarang dia telah berislam dengan sungguh-sungguh, makanya kata ketua marbot masjid Nurul Islam sekarang si tukang burung jalak bali tambah bermutu. Dan itulah cara berislam yang benar. Berislam itu mesti membuat hidup kita jadi tambah bermutu, kata ketua marbot. Tepuk tangan dooonnngggg . . .


Cerita yang dulu-dulu sudah di kubur dalam-dalam, jangan dibongkar-bongkar lagi . . . yang penting ke depannya kita mesti lebih baik lagi, begitu kata tukang burung yang sekarang bener-bener militan, tambah baik hati plus tidak sombong ini. 

Di tahun ini si tukang burung telah berazzam untuk berubah. Tahu nggak apa itu berazzam ? Berazam itu maksudnya bertekad dengan kuat. Dia bertekad bahwa Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari tahun-tahun lalu. Pokoknya harus berubah, begitu azzamnya. 

Bahkan kabarnya dalam mengelola Ramadhan tahun ini si tukang burung mau menggunakan pendekatan yang berbeda. Mau memakai managemen baru katanya. . . wah apa itu managemen baru dalam mengelola Ramadhan ? 

Ya . . .di Bulan Ramadhan tahun ini si tukang burung jalak bali ini memang telah bertekad untuk menggunakan managemen baru dalam menjalani Ramadhan. Coba cermati deh . . . istilahnya saja managemen baru dalam mengelola ramadhan. Hebat ya . . . ?

Apakah si tukang burung jalak bali menjadi panitia Ramadhan di masjid kampungnya ? Kalau itu iya sih, dari tahun-tahun lalu si tukang burung jalak bali ini memang sudah sibuk ngurusi buka bersama di masjid dan menyiapkan tikar buat sholat tarowih. Tapi managemen baru yang dimaksudkan sekarang ini berbeda. Bukan itu maksudnya. Maksudnya adalah memasuki bulan puasa ini bener-bener dengan persiapan diri yang maksimal. Jadi rupanyasi tukang burung ini lebih menukik ke dalam dirinya sendiri. Dia pingin menghayati hadirnya puasa, supaya dia mendapatkan hikmah berpuasa sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah terhadap hambanya yang berpuasa dengan sungguh-sungguh, yaitu derajat muttaqin. 

Muttaqin . . . wah-wah hebat bener tukang burung jalak bali kita ini. Tahu nggak kamu apa itu derajat muttaqin ? Kapan-kapan kita tanyain pak ustadz ya . . . soalnya tukang burung jalak bali sendiri juga masih agak-agak bingung apa artinya muttaqin . . .  hi . . hi . . .hi . . . Husss . . . ketawanya jangan kenceng-kenceng nanti si tukang burung jalak bali mendengar, dia bisa marahi lo . . .

Agar bisa meraih gelar muttaqin ini, makanya jauh-jauh hari dia telah menyiapkan diri untuk menyambut datangnya Bulan Ramadhan. Ternyata dalam pandangan si tukang burung jalak bali yang telah menerapkan managemen baru tersebut, Bulan Ramadhan itu kayak tamu yang mau hadir ke rumah kita. Karena mirip tamu sehingga kedatangannya perlu disambut, dilayani, ditanya-tanya dia maunya apa dan seterusnya, layaknya tamu yang kita mulyakan. 

Makanya tukang burung jalak bali bersama gengnya menyambut ramadhan ini dengan membuat seremonial yang diberi nama Tarhib Ramadhan. Yaitu semacam acara sosialisasi tentang datangnya Bulan Ramadhan, apa saja yang seharusnya kita lakukan selama Bulan Ramadhan sekaligus mengenali apa urgensi atau manfaat yang bisa kita ambil dari kehadiran Bulan Ramadhan ini bagi kita dan masyarakat luas. Ini adalah ekspresi rasa syukur atas datangnya Bula amadhan . . .

Oooo . . . begitu to ? Hebat bener ya si tukang burung jalak bali ini . . . tepuk tangan dong . . .
Dari acara tarhib Ramadhan ini kita umat islam diharapkan mendapatkan kejelasan tentang kapan waktunya masuk Bulan Ramadhan, bagaimana menyiapkan mental dan fisik dalam memasuki Bulan Ramadhan agar peran ramadhan dalam mentraining kita selama sebulan agar kelak pasca amadhan kita mendapatkan hasil sesuai dengan tujuan pembelajarannya tersebut. 

Wah . . . bahasanya si tukang burung jalak bali tambah susah ini . . . maklum managemen baru sih . . . weleh . . . weleh top nan, war biyasah . . .

Sore itu sepulang dari jama’ah ashar di masjid Nurul Islam langsung mengambil white board di gudang penyimpanan barang-barang bekas. Dengan spidol besar dia tulis begini :
1.      Niat puasa tahun ini mesti lebih baik, muttaqin ...Yess !
2.     Puasa tahun lalu belum maksimal, masih payah, jadikan poin untuk melakukan perbaikan di tahun ini
3.     Jadikan bulan ramadhan sebagai bulan tarbiyah (training), dengan goal yang jelas
4.     Tilawah khatam 2x, kultum tegas kayak bung Karno, i’tikaf di masjid raya
5.     Senantiasa memanjatkan doa kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk mencapai ramadhan terbaik pada tahun ini. 

Papan itu di gantungkan di kandang burung berdampingan dengan papan tempat mencatat jadwal tetas burungnya. Hebat tenan . . . militan tenan si tukang burung jalak bali kita ini.
Si tukang burung jalak bali kita benar-benar telah merasakan sendiri bahwa islam itu memang identik dengan mutu dan berislam itu artinya bermutu . . . weleh . . . weleh jan manteb tenan, war biyasah . . .

Semoga Allah merahmati hidupnya, keluarganya dan memberkahi penangkaran burungnya. Juga hidup kita semua para penangkar burung semuanya. Mari aamiinkan bersama-sama !
Semoga ramadhan kali ini mendatangkan berkah bagi para penangkar murai batu. Aamiin !
Semoga ramadhan kali ini mendatangkan berkah bagi para penangkar cucak rawa. Aamiin !
Semoga ramadhan kali ini mendatangkan berkah bagi para penangkar kenari. Aamiin !
Semoga ramadhan kali ini mendatangkan berkah bagi para penangkar love bird. Aamiin !
Semoga ramadhan kali ini mendatangkan berkah bagi para penangkar jalak suren. Aamiin !
Semoga ramadhan kali ini mendatangkan berkah bagi para penangkar kacer. Aamiin !
Semoga ramadhan kali ini mendatangkan berkah bagi para pleci mania. Aamiin !
Aamiin ya robbal ‘alamin. 

Demikianlah sepenggal catatan dari tukang burung jalak bali dalam memasuki ramadhan tahun ini. Semoga Allah memudahkan urusan kita semua, aamiin ! (pak syam penangkar burung jalak bali klaten, 081280543060)

Kamis, 14 Januari 2016

Alhamdulillah Tukang Burung (Jalak Bali Klaten) Sedang Sholih



Belasan tahun sudah saya menggeluti dunia burung. Awalnya bergelut dengan burung kenari, kemudian pindah ke burung jalak suren, lanjut ke burung cucak rawa dan sekarang menggeluti penangkaran burung jalak bali. 

Bergelut dengan dunia burung, wabil khusus di sektor penangkarannya adalah pergelutan yang mengasyikkan, meski juga harus di akui ini bukan pekerjaan ringan. Jadi ngeri-ngeri sedaplah ya  . . .

Membersihkan kandang, memberi pakan, mengganti air minum dan mandinya, membuat kotak sarang, memberi bahan sarang, meloloh piyik hingga siap jual dan seabreg kerjaan lainnya menjadi rutinitas harian yang tidak boleh ditinggalkan. Tak terasa itu semua saya lakoni selama rentang waktu belasan tahun. Alhamdulillah saya bisa melakoninya dengan senang hati . . .

Tak terlalu berlebihan jika sebagai tukang burung jalak bali saya mengatakan bahwa rasa-rasanya saya sudah menelan banyak asam dan mengunyah banyak garamnya penangkaran burung jalak bali. Karena suka dan duka sudah saya lewati bersama kandang dan burung-burung jalak bali saya dalam rentang waktu yang lumayan lama. 

Oh ya . . .rasa suka dan hati berbunga-bunga, biasanya mulai timbul pada saat melihat burung jalak bali saya sudah mulai unjal sarang alias bikin tarangan untuk bertelur. Jika sepekan kemudian burung jalak bali saya sudah terlihat angkrem maka hati ini semakin berbunga. Serius . . .

Dan jika dua pekan kemudian (masa eram burung jalak bali adalah empat belas hari) terndengar suara nan lembut ...iyik...iyik... iyik ...maka bunga-bunga di hati ini semakin bermekaran. Suara lembut ...iyik...iyik ...iyik... itu pertanda bahwa si piyik jalak bali sudah menetas. Dan kalau dua atau tiga bulan lagi burung jalak bali saya sudah terjual bunga-bunga semakin memenuhi hatiku. Begitulah cerita yang di alami oleh para tukang burung pada umumnya.

Dan efek penjualan burung tersebut, bisa menyebar ke mana-mana. Misalnya senyuman jadi gampang menghias bibir, ngguya-nguyu alias plengah-plengeh, binar-binar kegembiraan juga tak mau ketinggalan turut menghiasai mata, keceriaan segera datang menyertai diriku kemana-mana. Sehingga mendadak saya menjadi orang yang ceria, baik hati dan tidak sombong. 

Itulah yang biasanya terjadi jika burung-burung jalak bali saya berproduksi secara aktif dan penjualan berjalan secara lancar. Dan cerita seperti ini juga di alami oleh para tukang burung yang lain.

Namun sebaliknya jika sudah berbulan-bulan, si burung jalak bali kesayangan tidak menunjukkan upaya unjal sarang, bunga-bunga hati ini mulai redup. Jika sudah berkali-kali daun cemara di buat pancingan, gelodok sarang dibersihkan bahkan diganti yang baru, menu pakan ditingkatkan satu level dari jangkrik ke kroto, namun si burung jalak bali kesayangan tidak juga menunjukkan tanda-tanda bertelur, maka semakin ciutlah hati ini.

Jika hati sudah menciut maka benih-benih bunga yang tersemai dalam hati, mendadak layu. Tak ada setangkai kuncup bungapun yang mau mengembang. Efeknya bisa kemana-mana. Bibir ini menjadi berat untuk menyungging senyuman, mata ini rasanya jadi ngantuk terus, badan bawaannya jadi males. Ada masalah sedikit saja pinginnya marah-marah, dan seterusnya. Cerita ini juga umum terjadi di kalangan para tukang burung.

Itulah kira-kira suka dan duka, pahit dan getir serta asam garam yang senantiasa menghiasai perjalanan saya sebagai penangkar burung jalak bali. Bertahun-tahun rasa hati saya bolak balik antara rasa bahagia dan rasa sedih yang dikendalikan oleh burung jalak bali saya. Jika burung jalak bali saya berproduksi dengan baik maka hati ini langsung cerah dan hidup-pun terasa indah. Sebalikknya jika burung enggan bertelur, sedihlah hati ini dan hidup-pun terasa kurang bergairah. Lebay ya . . . ?

Tapi alhamdulillah akhir-akhir ini saya si tukang burung jalak bali ndeso ini mendadak menjadi sholih. Sebagai orang yang mendadak sholih tiba-tiba saya merasakan adanya kesadaran baru, bahwa hidup ini terlalu berharga untuk disedihkan oleh seekor burung, walau burung jalak bali sekalipun. Hidup ini mesti dibuat seindah mungkin, sebahagia mungkin, sesuai dengan fithroh kehidupan yang selalu ingin bahagia di dunia dan akhirat. Hidup tidak berboleh bergantung pada burung, suasana hati tidak boleh dikendalikan oleh hewan.

Saya bersyukur sejak timbulnya kesadaran itu hidup saya sebagai tukang burung jalak bali menjadi lebih indah. Hati ini selalu dipenuhi oleh rasa syukur. Dan alhamdulillah rasa syukur yang selalu bersemayam di dalam hati ini ternyata tidak hanya nyambung dengan suasana dalam kandang, namun juga nyambung dengan pasar. Hasilnya burung jadi produktif dan penjualan jadi lancar.

Buktinya sejak rasa syukur itu selalu hidup dalam hati, burung-burung juga semakin stabil bertelurnya, penjualan juga semakin lancar. Jadi rupanya kesadara baru ini telah memberikan buah di mana dengan menambahkan  rasa syukur ke dalam hati rupanya Allah menambah rejeki di dalam kandang. Mungkin ini yang oleh para ustadz di tipi diistilah dengan kalimat  “kalau kalian bersyukur maka nikmatmu akan ditambah“ (la in syakartum la azi dannakum)

Saya benar-benar baru merasakan bahwa ternyata menangkarkan burung jalak bali itu sederhana, dengan bersyukur saja sudah cukup. Baru kusadari ternyata keinginan yang berlebihan tentang target penangkaran burunglah yang menjadikan pekerjaan menangkarkan burung jalak bali menjadi rumit dan berat. Padahal kata para orang-orang sholih di tipi itu, hidup kita ini sebenarnya selalu dimudahkan oleh Tuhan “Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikanNya)  kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya” QS 27:73. Begitu kata mereka.

Baru kusadari ternyata kesedihan karena ketidakpuasan terhadap kinerja burung di kandang sebenarnya sekedar cerminan dari ketidaksiapan hati ini untuk pasrah, tidak mau melepas target karena merasa sebagai pemilik burung. Padahal jika kita mau ikhlas dan sadar bahwa burung yang ada dalam penangkaran kita semuanya milik Allah dan berjalan sesuai kehendakNya maka akan plong dada ini dan lega tanpa ada kesedihan  sedikitpun nyantol di hati. “Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan” (Qs. 3 :109)

Kini saya sangat bersyukur sekarang berada pada kesadaran fikiran seperti ini. Saya akan menjaga agar fikiran ini tetap berada pada posisi syukur ini seterusnya. Saya sangat menyadari bahwa fikiran ini sangat gampang berubah. Saking mudahnya berubah, ibaratnya semudah membalikkan telapak tangan. Untuk mengikatnya maka saya memerlukan tali pengikat berupa dzikir, menjaga ibadah terutama sholat dan tilawah al qur’an. Dan juga tak kalah pentingnya adalah menjaga pergaulan dengan orang-orang baik pada umumnya dan para penangkar burung yang sholih pada khususnya . . . mantab ya . . . he he he . . .

Jadi dalam kamus hidup saya sekarang tidak ada lagi istilah sedih berkepanjangan. Buat saya sekarang yang paling utama adalah merawat burung sebaik-baiknya sambil berdoa semoga Allah memberikan produktifitas yang tinggi dan stabil serta pemasaran yang lancar. Setelah itu saya pasrah. Kalau Allah memberikan rejeki saya bersyukur, tapi kalau Allah berkehendak untuk menyimpannya dan memberikannya di lain waktu ya saya sabar atas hal ini. Karena saya berkeyakinan bahwa itu semua adalah yang terbaik buat saya.

Saya berusaha untuk menjaga hati ini, agar tidak tertular dengan kebiasaan sebagian penangkar yang terlalu menuntut hasil dari penangkarannya secara berlebihan. Ada sebagian penangkar yang mematok hasil secara kaku. Di mana dia mentargetkan semua indukannya harus berproduksi. Untuk mencapai target tersebut maka segala suplemen pabrikan diberikan kepada si burung. Padahal sesungguhnya sebaik-baik suplemen burung adalah makanan alami. Maka pemberian suplemen terbaik bagi burung sebenarnya adalah makanan yang berasal dari alam, yaitu buah dan serangga. Bukan zat-zat kimia.

Menurut saya mereka terlalu terpaku pada persoalan teknis menangkar, sampai lupa bahwa berproduksi dan tidaknya burung kita, semuanya di tangan Allah. Tugas kita hanya menangkar dengan sebaik-baiknya, yaitu merawat dengan baik, dengan penuh kasih sayang, memberinya pakan yang terbaik, minum yang terbaik, mensuasanakan kandang senyaman mungkin. Jika semua prasyarat untuk tumbuhnya produktifitas tersebut sudah kita berikan, maka insya Allah produktifitas penangkaran kita akan meningkat. Sederhana kan ?

Alhamdulillah dengan mengambil sikap seperti ini, penangkaran saya semakin produktif dan penjualan juga lancar. Ya Allah tuntunlah hati ini untuk tetap berada dalam bimbinganMu, aamiin . . . (pak Syam, penangkar jalak bali klaten 081280543060)

Rabu, 01 April 2015

AHA Breeding Klaten : Bahagia ala Tukang Burung ( Jalak Bali )


Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9


Sabtu pagi kemarin cuaca cerah sekali, secerah hati pak Syam. Dengan rengeng-rengeng syair tanpo waton Gus Dur, pak Syam mengganti pakan dan minum burung jalak balinya. “Ngawiti ingsun nglaras syi’iraaaannn . . . kelawan muji maring peeengeran . . . kang paring rohmat lan kenikmatan . . .rino wengine tanpo pitungan” . . . begitu suara nyanyian pak Syam mengikuti suara bariton syi’iran Gus Dur.

Sabtu pagi memang hari istimewa buat pak Syam. Karena itulah waktu yang bisa dimanfaatkan buat berdekat-dekatan dengan si burung cantik jalak bali di kandang penangkarannya. Buat seorang penangkar burung jalak bali semacam pak Syam ini, berdekat-dekatan dengan burung jalak bali dalam penangkarannya bisa memberikan sensasi tersendiri. Itulah asyiknya menjadi penangkar burung jalak bali.

Kata pak Syam, penangkar burung jalak bali yang bisa menyertakan hatinya ke dalam aktivitas penangkarannya akan bisa menyulap aktivitas menangkar menjadi kegiatan yang terasa nikmat untuk dijalani. Saat membersihkan kandang, saat menggati pakan, saat mengganti air untuk minum dan mandinya burung, saat meloloh piyikan, saat membuat gelodok tempat sarang, saat mencari daun cemara untuk bahan sarang adalah sederetan kegiatan yang sebenarnya melelahkan tapi sekaligus mengasikkan. Bagi penangkar yang menyertakan hatinya dalam penangkaran maka kelelahan itu membawa kenikmatan. Setidaknya itulah yang selama ini dirasakan oleh pak Syam saat merawat burung-burung dalam penangkarannya.

Di tengah keasyikannya merawat burung-burung jalak bali di kandang belakang tersebut, istrinya memberitahu ada tamu yang datang. “Pak . . .itu ada tamu,” kata istrinya yang sedang memasak di dapur. “Bau tempe gorengnya . . .sedap nyeeee . . .” kata pak Syam yang terganggu dengan aroma tempe goreng yang menyeruak dari dapur. “Halah . . .bapak ini  . . . malah kayak si Upin saja, wong ada tamu kok malah ngurusi tempe goreng,” kata istrinya “Oh . . .lah ibu goreng tempenya pinter banget . . . sedap nyeee . . . he he he . .  .” jawab pak Syam sambil tertawa.

Sejurus kemudian kang Iwan shohib pak Syam di dunia perburungan, diantar istri pak Syam menemui di kandang belakang.

“Assalamu’alaikum pak Syam,” sapa kang Iwan yang segera disambut oleh pak Syam “Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.”

Setelah saling berbasa basi menanyakan tentang kabar masing-masing akhirnya mereka terlibat dalam pembicaraan yang serius, namun tetap dalam suasana santai. Sesekali terdengar canda tawa di antara mereka.

“Jadi begini pak Syam,” kata pak Iwan. “Ooo . . .jadi begitu kang Iwan,” jawab pak Syam menggoda. “Wah pak Syam ini . . .wong saya baru memulai cerita kok sudah di jawab,” kata pak Iwan memprotes. “La . . . penjenengan mengawali ceritanya dengan . . .jadi begini . . .ya saya jawab . . .ooo jadi begitu . . .he he he ‘” tawa mereka pecah bersama-sama.

“Pak Syam . . .serius nih . . .kenapa ya saya kok  merasa bosen dengan hidup saya,” kata kang Iwan Serius. “Bosen gimana . . . wah bahaya itu . . . kita hidup mesti bersemangat kang Iwan,” kata pak Syam tak kalah seriusnya.

“Saya merasa hidup saya kok begini begini terus . . . gak ada kemajuan . . . burung juga gak berkembang . . . indukan pada macet terus . . . harga jalak suren malah terjun bebas,” kata kang Iwan nyerocos terus. Sementara pak Syam dengan serius hanya menjawab “OOOooo . . .’” sebagai tanda tidak mengerti.


“Saya merasakan hidup ini hambar pak, agak ada variasinya, gak ada nikmatnya . . . tolong nasihati saya pak Syam !” pinta kang Iwan. Sementara pak Syam yang di mintai nasihat dari tadi hanya mengatakan “OOOooo . . . begitu ya ?” dia malah balik bertanya.

“Apa lagi masalah saya itu lo pak Syam . . . masalah saya hanya itu ituuu saja . . . paling masalah duit, masalah burung yang gak bertelur, burung yang susah pemasarannya . . . hanya itu ituuu saja . . . saya sampai bosen dengan hidup saya sendiri’” kata kang Iwan. Sementara pak Syam masih konsisten dengan jawaban semula,”OOOooo . . . begitu ya . . .?” pak Syam malah balik bertanya.

“Pak Syam ini gimana to . . .wong dimintai nasihat kok malah . . .OOOooo . . . begitu ya . . . kasih solusi dong,” kata kang Iwan sewot. “Kang Iwan . . . bukannya saya tidak mau membantu teman . . . tapi saya benar-benar tidak tahu saya harus berbuat apa. Saya sendiri juga tidak mengerti. Saya juga sering kok merasakan seperti yang sampean rasakan itu,” kata pak Syam serius. Kali ini memang serius, pak Syam benar-benar tidak mengerti apa solusi yang bisa diberikan kepada kang Iwan.

Sejurus kemudian, ada malaikat lewat,”Cling . . . aha . . . aku ada ide, bagaimana kalau kita silaturahim ke rumah pak Mudzakir . . . kita minta tausyiyah kepada beliau . . . saya yakin beliau bisa memberikan pencerahan kepada kita . . . beliau itu tukang kompor maksudnya suka memberi motivasi,” kata pak Syam yang gentian nyerocos. “Oke . . . saya setuju, kita kesana kapan ?” jawab kang Iwan tidak kalah semangatnya. “Kalau begitu besok pagi kita ke sana,” kata pak Syam yang di amini oleh kang Iwan.

Pagi ini sekitar pukul tujuh, pak Syam dan kang Iwan macak necis menuju masjid Raya Klaten. Loh kok pergi ke masjid Raya Klaten ? La kok tumben ?

Dengan mengendarai sepeda kumbang mereka nampak riang bersepeda bareng puluhan orang yang sedang menikmati car freeday menuju TKP di Alun-alun Klaten dan sekitarnya. Ya . . . setiap minggu pagi jalur sepanjang jalan Pemuda Utara, Pemuda Tengah dan Pemuda Selatan Kota Klaten, memang difungsikan sebagai area car freeday. Ratusan orang bahkan mungkin ribuan orang setiap Hari Ahad pagi tumpah ruah di jalan-jalan tersebut menikmati sejuknya udara pagi sambil cuci mata dan menikmati berbagai sajian kuliner di sepanjang jalan tersebut.

Tak terkecuali pak Syam dan kang Iwan, meski dengan tujuan untuk menghadiri pengajian Ahad pagi yang digelar di pelataran Masjid Agung (Masjid Raya) Klaten yang terletak di sebelah utara Alun-Alun kota Klaten yang pagi ini mejadi jantung yang menghubungkan urat nadi keramaian car freeday . . . Mereka berdua tampak menikmati sekali acara car freeday pagi ini. Maklum tukang burung, masuk kota.

Mereka berdua mendatangi pengajian Ahad pagi karena ada janji untuk bertemu dengan bapak Mudzakir, mubaligh kondang yang mengisi pengajian Ahad pagi kali ini. Sedianya beliau akan menyediakan waktu untuk konsultasi setelah pengajian selesai. Jika bukan karena sudah terikat janji mungkin mereka berdua akan lebih suka menikmati car freeday saja.

Singkat cerita, setelah muter-muter alun-alun sampai capek disambung dengan pengajian Ahad pagi sambil menahan kantuk selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka berdua menemui pak Mudzakir di aula lantai satu Masjid Agung (Masjid Raya) Klaten.


Dengan senyum khasnya Bapak Mubaligh kondang ini bertanya, “Ada apa to ada apa . . .kok seperti ada masalah penting,”

“Begini pak ustadz,” kata pak Syam memulai pembicaraan yang segera saja di sambut  pak Mudzakir,”OOOooo . . .begitu to.” Kang Iwan terkekeh yang diikuti tawa yang lain . . .

Rabu, 25 Februari 2015

AHA Breeding Klaten : Kisah Tentang Burung Pleci Yang Matanya Buta Sebelah, dari Sang Penangkar Burung Jalak Bali


Oleh pak Syam ( penangkar burung jalak bali klaten )

Alkisah, seorang penangkar burung jalak suren bersepeda kumbang pergi menuju pasar burung terdekat. Dia berharap bakal ada temannya sesama kicau mania yang bersedia mentraktirnya barang  secangkir dua cangkir kopi.  

Dia pergi dengan gontai, setengah putus asa, karena musim kemarau ini tak satupun telur jalak suren di penangkarannya yang menetas. Telur-telur burung jalak surennya pada kopong. Secangkir kopi mungkin bisa mengusir kesumpekan hatinya.

Sudah cukup lama ia tidak mendapatkan penghasilan dari penangkarannya yang sederhana itu. Beras untuk keluarganya kadang tak terbeli. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, apa lagi mainan. Untung istrinya bisa memahami kondisi ini. Meski begitu risau hati sang penangkar tak bisa ditahan, karenanya ia tidak yakin kalau kepergiannya ke pasar burung kali inipun bakal bisa mengusir kegalauan hatinya . . . . . .

Ketika laki-laki itu tengah melewati jalanan sepi, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh mengenai kepalanya. Kontan dia berhenti dan meraba kepalanya, “Lo kok basah ?” katanya. Dia mendongak ke atas. Rupanya di atas dahan pohon akasia, seekor burung pleci duduk dengan santai. Seekor burung pleci kaca mata yang buta mata kirinya, sedang menikmati semilir angin di siang itu. Dia buang kotoran, persis di saat sang penangkar burung lewat di bawahnya . . .

Instingnya sebagai kicau mania langsung tertantang. Dengan sekali lompat tangan lelaki itu berhasil menangkap burung pleci tersebut. “Syukurlah ada rejeki kali ini, saya bisa menjualnya seharga tujuh ribu rupiah atau delapan ribu . . . ,” katanya pada diri sendiri.

Sebuah mobil mewah yang berhenti di sampingnya, telah membangunkannya dari lamunan indah tentang uang tujuh ribu. Setelah kacanya terbuka seorang supir melongok keluar dan menawarkan seekor kucing persia yang sangat cantik untuk diberikan secara cuma-cuma. Sang penangkar burung itu merasa ragu, masak kucing secantik itu diberikan secara cuma-cuma. Untuk menepis keraguannya dia menawarkan barter dengan burung pleci miliknya. Di luar dugaan, ternyata sang Nyonya pemilik mobil yang duduk di sebelah sopir menyambutnya dengan antusias, " Bagus banget burungnya  . . . kecil imut-mut". Barterpun terjadi.

Sang penangkar burung itu melanjutkan perjalanannya menuju pasar. Baru beberapa menit dia mengayuh sepeda kumbangnya, sebuah mobil melintas. Demi dilihanya orang bersepeda membawa keranjang tas plastic wadah kucing, dia menghentikan kendaraannya. “Pak dijual berapa kucingnya ?” tanya si pengendara mobil. “Tujuh ratus ribu pak’” kata sang penangkar burung dengan ragu-ragu. “Sini saya bayarin,” kata si pemilik mobil. Kaget juga si penangkar karena harga yang dia sebutkan langsung disetujui tanpa di tawar lagi.


Dan satu lagi, sebelum kendaraan itu pergi, dia memberian seekor burung putih kepada sang penangkar. “Tadi waktu saya melintas ada burung menabrak kaca depan mobil saya, sampai pingsan. Terus saya ambil sekarang sudah sehat kok, ambil saja pak,” kata si pemilik mobil terus berlalu.

“Wouw seekor burung jalak bali . . .??? Benarkah ini seekor burung jalak bali . . . ??? . . . Mimpi apa aku semalam kok tiba-tiba saya mendapatkan burung yang sudah sangat lama saya impikan ini . . . bertahun-tahun saya memimpikan burung ini, tapi sampai saat ini aku baru mampu menangkar burung jalak suren. Hari ini saya mendapatkan impiannya saya tanpa pernah saya duga . . . terima kasih ya Allah . . .Kemudian sang penangkar burung sujud syukur . . .

Dengan hati yang berbunga-bunga dia memutar arah sepeda kumbangnya menuju rumah. Dia lupakan manisnya kopi di warung Lik Kijan tengah pasar burung, langganannya. Dengan senyum yang mengembang dia pacu sepeda kumbangnya menuju rumah sambil membawa duit tujuh ratus ribu rupiah untuk istri tersayang.