tulisan berjalan

Kontak Pak Syam WA 081280543060

Rabu, 10 September 2014

Penangkar Burung Jalak Bali Klaten : Cerita Soal Haji versi Tukang Burung

Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9


( Seri Tukang Burung Ingin Naik Haji bag. 4 )

oke kita lanjutkan lagi ya . . .Sampai dimana kemarin. Ooo . .sampai ke tempat-tempat mustajab untuk berdoa. Iya to ? Kemarin sudah saya sebutkan dua tempat mustajab yaitu Multazam dan Hijr Ismail. Sekarang kita lanjutkan ke tiga tempat mustajab lainnya. oke siaaappp . . .

3.      Hajar Aswad

Siapa yang tak pernah mendengar Hajar Aswad ? Konon menurut para kasepuhan Hajar Aswad merupakan batu terakhir pemberian malaikat Jibril yang kemudian diletakkan oleh Nabi Ibrahim untuk menyelesaikan pembangunan Ka'bah. Hajar Aswad terletak di sebelah kiri pintu Ka'bah. Berdoa sembari mencium Hajar Aswad merupakan doa yang sangat mustajab untuk dikabulkan. Konon, pada awalnya batu ini berwarna putih bersih. Namun, akibat banyaknya umat muslim yang menyentuhnya maka ia berubah menjadi hitam.

Hajar Aswad pernah dicuri dan jatuh hingga pecah berkeping-keping. Oleh karena itu, Hajar Aswad yang saat ini tertanam di Ka'bah bukanlah sepenuhnya merupakan Hajar Aswad. Hanya beberapa titik batuan yang mengandung Hajar Aswad karena ia sudah dicampur dengan batuan lain. Oleh karena itu ada pesan agar kita mencermati sebelum menciumnya. Pastikan bahwa ia benar-benar Hajar Aswad, bukan batuan lain.

4.     Rukun Yamani

Kata para kasepuhan, dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyampaikan bahwa "Ada 70 malaikat yang memegang rukun Yamani. Barangsiapa berdoa, 'Ya Allah, berilah aku ampunan dan kesehatan di dalam agama, dunia, dan akhirat. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah diri kami dari siksa api neraka' maka 70 malaikat tersebut akan berkata, 'Amin, kabulkanlah doanya'." (HR. Ibnu Majah).

Weleh . . .weleh iniyang dinamakan doa sapu jagat itu. Doa inilah yang dibaca ketika muslim sedang melakukan tawaf di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
Rukun Yamani itu sendiri merupakan sudut  sebelum seorang jamaah haji mencapai Hajar Aswad pas dia sedang melakukan tawaf.


5.     Raudhah

Raudhah artinya 'taman'. Raudhoh terletak di Madinah, tepatnya di dalam Masjid Nabawi. Raudhah merupakan sebuah area kecil yang terletak di antara mimbar imam Masjid Nabawi dengan makam Nabi Muhammad saw, Abu Bakar As siddiq, dan Umar bin Khatab.

Di dalam raudhah, jamaah haji sebaiknya melaksanakan shalat sunnat empat rakaat kemudian berdoa. Konon saat ini untuk jemaat laki-laki, raudhah dibuka 24 jam sehingga melaksanakan saat shalat wajib berjamaah pun jamaah dapat melakukannya di sini. Sedangkan untuk jamaah perempuan hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu (ba'da shalat subuh-pukul 11.00, ba'da dzuhur-masuk shalat ashar, ba'da isya-pukul 00.00).

Nah itu tadi lima tempat mustajab untuk berdoa yang terletak di kota suci yang sangat dirindukan oleh kaum muslimin seluruh dunia. Semoga kita semua kelak diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut untuk mencurahkan doa-kita sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya. Amin.

Kembali ke soal haji. Selama menjalankan prosesi haji biasanya berjuta harapan ditaburkan para jamaah. Berjuta doa panjatkan, berjuta keinginan disampaikan. Ada yang meminta keluasan rizki, pangkat yang tinggi, meminta diberi keturunan karena sudah bertahun-tahun menikah namun belum dikarunia anak, ada yang minta diberi kesehatan dan kesembuhan atas penyakit yang dideritanya, yang jomblo minta jodoh dan lain-lain.

Dan untuk para tukang burung kayak kita ini jangan lupa meminta agar diberikan penangkaran burung yang produktif, indukannya banyak, anakanannya banyak, penjualannya gampang. Duit hasil penjualan burungnya berkah, bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Dan yang lebih penting lagi setelah kita diberi penangkaran yang besar, yang produktif dan yang berkah, semua hasil dari penangkaran itu bisa jadi wasilah kita untuk menjadi muslim yang lebih sholih sehingga hasil penangkarannya bisa menjadi wasilah (sarana) yang mengantarkan kita masuk surga. Aamiin . . .manteb to. Insya Allah diijabah.


Berkaitan dengan doa yang kita panjatkan, Al-Qur’an mengingatkan bahwa hendaknya jangan sampai doa-doa kita, keinginan-keinginan dan harapan kita jangan sampai hanya terbatas pada persoalan dunia. Mintalah sebanyak-banyaknya indukan jalak bali, indukan jalak putih, indukan cucakrawa dan indukan murai batu namun juga mintalah keberkahannya. Sekaligus meminta agar seluruh perolehan dari doa kita tersebut bisa memberikan berkah kepada keluarga, masyarakat, memberi ketenteraman hidup, sekaligus bisa menjadi bekal kita untuk masuk surga. Begitu ya . . .


Penangkar Burung Jalak Bali Klaten : Cerita Soal Haji versi Tukang Burung

Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9


( Seri Tukang Burung Ingin Naik Haji bag. 3 )

Oke mumet saya sudah hilang dan saya kemarin sudah baca-baca soal haji. Sekarang saya mau ngoceh pada penjenengan ya . . .

Saya akan menceritakan tentang manfaat haji buat kita. Kemarin kita kan sempat rasan-rasan apa sih tujuan haji, kok 0rang islam pakai haji-hajian ke tempat yang jauh segala. Kok hajinya gak yang dekat-dekat saja biar gampang dan gak menghabiskan ongkos ?

Nah sekarang kita mau ngangsu kawruh mengenai tujuannya. Kata para kasepuhan, tentang manfaat haji yang kita pertanyakan ini Allah telah menjawabnya di dalam al-Qur’an “…Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka…” (QS al-Hajj: 28)

Coba sampeyan ambil alqur’an. Punya alqur’an to ? Yang ada terjemahannya saja ya, kalau qur’an yang tanpa terjemah nanti malah bingung. Sekarang coba sampeyan cari surat al-Haj ayatnya 28. Juz berapa tuh . . .cari aja ya. . .Di dalam ayat tersebut Allah menyebutkan kata “manafi”. Tahu to sampeyan kalau kata manafi’ itu adalah kata jamak dari manfaat.

Nah ini artinya bahwa dengan menjalani ibadah haji maka orang akan mendapatkan manfaat yang banyak. Terus kalau kata tersebut kita lihat dari ilmu tata bahasa arab (nahwu shorof) maka akan kita dapati makna yang lebih dalam lagi. Kata para kasepuhan saat Allah menyebutkan kata manafi’ dalam bentuk jamak dan nakirah (indefinitive) seperti ini Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa di dalam momen haji benar-benar terdapat manfaat-manfaat yang sangat banyak dan jumlahnya tidak terbatas. Manfaat tersebut tidak hanya terbatas pada manfaat keagamaan dan keimanan, tetapi juga manfaat keduniaan dan materi.


Lihatlah saat kita menjalankan ibadah haji Allah mempersilakan jemaah haji menggabungkan tujuan akhirat dan kepentingan duniawi secara bersama-sama. Secara tegas Allah menyatakan bahwa berdagang dalam ibadah haji tidak dilarang. Allah berfirman,“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.” QS al-Baqarah: 198).

Ibadah haji menjadi bukti bahwa dalam ajaran islam, dunia dan akhirat bukanlah dua hal yang kontradiktif. Dunia dan akhirat bukanlah musuh. Bahkan di dalam islam justru dianjurkan untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat secara bersama-sama ( fidun-ya hasanah wa fil akhiroti hasanah). Ini artinya agama islam tidak hanya mementingkan kehidupan akhirat saja, namun kehidupan di dunia juga harus dikejar dengan sebaik-baiknya.

Mau jualan sangkar burung di sela-sela ibadah haji ? Boleh kok. Mau jualan jalak bali di sela-sela kegiatan haji ? Halal kok, asalkan burungmu sendiri lo ya . . . bukan ngambil punya orang orang he he he . . .ini serius loh. Kalau sampeyan jualan burung jalak bali pada momen haji pasti orang arab sana akan terheran-heran “Ajiiibb . . .ajiibb . . .wouw ajiib . . .lebih ajib dari burung onta !! he . . .he . . .he . . .

Kata para kasepuhan seseorang yang melakukan ibadah haji dengan bener yaitu melaksanakan semua rukun-rukunya, yang wajib maupun yang sunnah dia masih punya waktu dan kesempatan untuk berbisnis kok. Meskipun beberapa ulama mengatakan bahwa lebih afdhol untuk tidak melakukan dagang di sela-sela ibadah haji, tetapi semua ulama sepakat jika rukun-rukun dan kewajiban haji disempurnakan ibadah, kegiatan perdagangan tidak akan merusak haji. Begitu . . .mau jualan jalak suren sambil haji ? Silakan . . .

Bahkan kalau kita mau menyimak orang-orang hebat yang berceramah di tipi itu mereka malah mengatakan, konsep connectivity dunia dengan akhirat memang ajaran Islam yang orisinil. Sebagaimana juga dalam sholat Jum’at setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan perdagangan selama sholat Jum’at kemudian setelah sholat justru Allah memerintahkan untuk menyebar di muka bumi mencari rizki. Allah berfirman ”Hai orang-orang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (yaitu khutbah dan sholat Jum’at) dan tinggalkanlah jual beli[6]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (10) Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS al-Jumu’ah: 9-10). Manteb to . . .?


Selasa, 09 September 2014

Ingin Menangkar Burung Dengan Lancar ? Taati Aturan dan Komunikasikan Persoalan Anda Dengan Cerdas


PENTING ! PENTING !


Buat kita para penangkar burung jalak bali dan burung-burung dilindungi lainnya, diharapkan sering-sering berkomunikasi dengan kementerian terkait. Kementerian yang terkait dengan penangkaran burung tersebut adalah Kementerian Kehutanan.

Kita mesti kenal tuh dengan yang namanya Kementerian Kehutanan. Sesekali mainlah ke kementerian ini. Demi kelancaran kita dalam menangkarkan burung, kita mesti memiliki komunikasi yang lancar dengan mereka.



Komunikasi ini sangat kita perlukan sebagai sarana untuk menjalin silaturahim, konsultasi maupun mengadukan masalah yang kita hadapi saat menangkarkan burung jalak bali atau burung-burung dilindungi lainnya, saat mengurus perijinan, saat membuat sertifikat anakan hasil penangkaran maupun saat membuat SATS-DN maupun SATS-LN.

Ini nih alamat Kementerian Kehutanan :

Kementerian Kehutanan
Gedung Manggala Wanabakti Blok I Lt. 3
Jalan Gatot Subroto - Senayan - Jakarta - Indonesia – 10270
Telp. 021-5704501-04; 021-5730191 

Terus buat kita yang jauh dari ibu kota, kita tentu gak perlu repot-repot datang ke Jakarta lah ya. Sekarang kan jaman informasi, maka komunikasi lewat email kita anggap cukup lah.

Untuk itu berikut ini saya kutipkan beberapa alamat email dari pejabat di Kementerian Kehutanan yang terkait dengan persoalan kita sebagai penangkar burung jalak bali dan burung-burung dilindungi lainnya.

Sekali lagi komunikasi ini penting demi kebaikan kita bersama. Komunikasi ini sekalipun hanya lewat email, bisa kita manfaatkan untuk  silaturahim, konsultasi maupun mengadukan masalah yang kita hadapi sangat menangkarkan burung jalak bali, saat mengurus perijinan, saat membuat sertifikat anakan jalak bali maupun saat membuat SATS-DN maupun SATS-LN.

Inilah alamat email beberapa pejabat terkait :

Menteri Kehutanan : menhut@dephut.go.id
Sekjend Kemenhut : sekjen@dephut.go.id
Inspektur Jenderal : irjen@dephut.go.id
Biro Hukum dan Organisasi : karo.hukum@dephut.go.id
Direktur Penyidikan dan Perlindungan Hutan : dirpph.pka@dephut.go.id
Direktur Konservasi dan Keanekaraman Hayati : dirkkh.pka@dephut.go.id

Inspektur Wilayah I  : irwil01@dephut.go.id 
Inspektur Wilayah II  : rwil02@dephut.cbn.ne.id 
Inspektur Wilayah III  : irwil03@dephut.go.id
Inspektur Wilayah IV  : irwil04@dephut.go.id
Inspektur Wilayah V  : irwil05@dephut.go.id


Perlu kami tambahkan bahwa saat ini seluruh kementerian di negara kita sedang berbenah. Mereka tengah melakukan modernisasi dalam pengelolaan kementeriaannya. Salah satu poin penting dalam modernisasi tersebut adalah meningkatkan mutu pelayanan publik.


Senin, 08 September 2014

Menangkarkan Burung Jalak Bali, Apakah Tidak Melanggar UU ?

Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9


Pengantar

Ada sedikit kesalahan pemahaman sebagian anggota masyarakat tentang boleh dan tidaknya memelihara burung jalak bali di rumah. Sebagian mengira kita tidak boleh menangkarkan, memelihara, merawat, membudidayakan apa lagi menjual atau membeli burung jalak bali tersebut, karena status burung jalak bali masuk kategori burung langka yang dilindungi Undang-Undang. Padahal sesunguhnya memelihara burung jalak bali diperbolehkan oleh Undang-Undang, sepanjang burung jalak bali tersebut memiliki sertifikat resmi yang disyahkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Jadi menangkarkan burung jalak bali dan merawat anakan burung jalak bali hingga dewasa, membeli dan menjual burung jalak bali baik memeliharanya sebagai hobi maupun dalam bentuk penangkaran burung jalak bali diperbolehkan secara hukum.

Burung jalak bali saat ini menjadi salah satu burung paling langka di Indonesia, bahkan di tingkat dunia. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh lembaga penyelamat satwa dengan tegas mendukung kesimpulan ini. Di Taman Nasional Bali Barat misalnya. Di cagar alam yang telah ditetapkan pemerintah sebagai habitat penyelamatan burung jalak bali ini konon jumlah burung jalak bali di sana tidak lebih dari sepuluh ekor. Nah lo . . .


Melihat fakta ini maka kita patut untuk bersedih karena keberadaan satwa asli Indonesia ini ternyata jumlahnya sangat minim. Namun begitu kita masih bisa sedikit tersenyum jika kita menengok ke penangkaran, setidaknya yang penulis ketahui di daerah penulis sendiri yaitu di Kabupaten Klaten.

Menengok burung jalak bali di penangkaran penduduk di Kabupaten Klaten hati ini mendapatkan hiburan tersendiri.  Karena di Kabupaten Klaten penangkaran burung jalak bali cukup berhasil. Di kabupaten ini terdapat puluhan penangkar burung jalak bali berijin resmi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi Jawa Tengah.

Kami (penulis) adalah salah seorang di antara penangkar burung jalak bali yang telah mendapatkan ijin untuk menangkarkan maupun untuk memperjualbelikan satwa eksotic tersebut.


Loh . . . bukannya jalak bali itu burung di lindungi Undang-Undang, kok di perjual belikan sih ? Tadi dikatakan jumlahnya di alam tinggal sedikit dan terancam punah, kok ini malah di perdagangkan sih ? Gimana sih kok bisa begitu . . .

Itulah sebagaian pertanyaan yang sering kami dapatkan. Memang benar burung jalak bali adalah merupakan salah satu spesies burung yang dilindungi Undang-Undang karena keberadaan mereka di alam sudah langka. Namun begitu keberadaan burung jalak bali yang sudah kritis sedemikian ini bukan berarti bahwa burung jalak bali tidak boleh ditangkarkan dan tidak boleh diperjual belikan.

Di atur Undang-Undang itu artinya, ada ketentuan yang harus dipenuhi jika kita ingin menangkar atau memperjual belikannya. Asalkan kita telah memenuhi ketentuannya maka kita boleh menangkar dan memperjualbelikan anakannya. Jadi dalam urusan burung jalan balik ini, syarat dan ketentuan berlaku . . .

Selasa, 02 September 2014

Penangkar Burung Jalak bali Klaten ; Anugerah dari Cisarua Sampai ke Tulungagung

Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9


Pusat penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" telah berhasil menangkarkan burung jalak bali dan merawat anakan burung jalak bali hingga dewasa. Dengan demikian penangkaran burung jalak bali yang dilakukan "AHA Breeding Klaten" telah turut menyokong program pemerintah dalam mencegah kepunahan burung jalak bali tersebut. Budi daya burung jalak bali ini juga sangat berarti secara ekonomi, dan "AHA Breeding Klaten" telah banyak menjual burung jalak bali hasil tangkarannya kepada para penggemar burung jalak bali dan penghobi burung langka lainnya.

Kali ini untuk ke sekian kalinya saya kembali mendapatkan anugerah itu. Anugerah berupa pertemuan dengan penangkar besar yang tentu saja tidak setiap penangkar mendapatkan semempatan langka seperti ini. Sungguh ini bukan pertemuan biasa.

Bagi saya pertemuan dengan sesama penangkar merupakan anugerah yang selalu saya cari, maklum penangkar nDeso. Sebagai penangkar nDeso tentu saja saya jarang update informasi, baik soal tips-tips breeding agar tetap produktif, pemasaran yang lancar, apa lagi di sini ada kesempatan untuk membangun koneksi dengan kalangan atas awan he he he. . . . .

Awalnya saya dihubungi bu Emy, salah seorang pembesar Pelestari Burung Indonesia (PBI). Beliau menyampaikan undangan dari FOKSI (Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia ) bahwa akan diadakan Loka Karya Burung Berkicau di Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor. Langsung saja saya menyambut undangannya.

Sabtu pagi 29 Agustus lalu, saya meluncur ke Citeureup untuk bergabung dengan rombongan. Saking semangatnya saya datang kepagian. Maka sambil menunggu anggota rombongan yang lain saya sarapan lontong sayur. Ini sarapan khas orang kota kayaknya, dan tentu saja tidak bisa saya temui di Klaten. Sajiannya aneh karena meski bernama lontong sayur tapi hampir gak pakai sayur, saking minimnya. Maklum ini di kota bukan di Klaten di mana untuk mendapatkan sayur bukan hal yang gampang dan tentu saja tidak murah.

Sekitar pukul 08.30 kami mengawali perjalan penting ini. Setengah jam meluncur kami sudah dihadang oleh kemacetan yang panjang mengular. Inilah penyakit utama jalanan kota. Tapi bagi saya kemacetan ini tidak mengganggu sama sekali, bahkan menjadi anugerah karena dalam perjalanan ini saya bersama para pakar penangkaran sekaligus para jurgan besar. Sehingga saya bisa menimba ilmu lebih lama dari mereka.

Bertindak sebagai komandan perjalanan adalah Pak Sukardi. Siapa tidak kenal beliau, lelaki kalem yang sudah puluhan tahun menggeluti dunia perburungan ini, bukan lagi bergelar sebagai pakar burung jalak bali semata. Beliau sudah berada dua level di atas pakar alias mbahe pakar. Beratus burung telah lahir dari penangkarannya.

Bertindak sebagai pendamping pak Sukardi adalah Mas Saidi. Lelaki muda energik ini, bukan orang baru dalam dunia perburungan. Di usia yang berkisar tiga puluhan beliau sudah membangun “kerajaan” murai dengan jumlah prajurit ratusan ekor di penangkarannya. Saya sempat dibuatnya terbelalak dan mengucapkan wouw saat saya anjang sana ke penangkarannya beberapa waktu lalu. Kandang sebanyak ini berisi burung murai semua ? Tidak ada yang berisi manuk gemak (burung puyuh) ? bisik hati saya terheran-heran.

Saya tidak habis mengerti bagaimana menangkarkan burung murai batu ekor panjang ( minimal 20 cm ) dalam jumlah ratusan ekor dengan produksi yang tinggi ? Sedangkan saya selama ini setiap kali menjodohkan burung murai selalu dibuat pusing. Maka ketika hari ini saya berjumpa dengan beliau al mukarom mas Saidi, saya percaya bahwa ini adalah scenario dari Allah. Allah akan menunjukkan kepada saya tentang profil yang mesti saya teladani dalam menangkarkan burung, untuk untuk menuju keberhasilan sebagaimana yang telah Allah berikan kepada wong pati ini. Hati saya sempat berbisik, insya Allah tahun depan wong Klaten juga bakal bersiap memiliki keberhasilan yang setara, aamiin . . .

Di jajaran bangku tengah mobil mewah yang kami tumpangi ini, persis disebelah saya duduk dengan tenang seorang lelaki hitam manis, semanis tebu he he he . . . Komunitas burung Jabodetbek sering memanggilnya mas Yoen. Lelaki berkumis tipis asli Krakitan kampung jalak suren di laten ini, memiliki pengalaman menangkarkan burung yang cukup lengkap. Skillnya cukup beragam. Jika penjenengan kesulitan memilih cucak rawa ropel hutan atau ropel kaset, beliau ini rujukan yang tepat. Penjenengan memiliki problem pleci yang macet tidak mau berbunyi, beliau adalah nara sumber yang pas. Apalagi kalau sekedar berkonsultasi tentang penangkaran burung jalak bali, cucak rawa atau murai batu, beliau ibaratnya weruh sak durunge winarah. Penjenengan belum bertanya saja mas Yoen sudah siap dengan jawaban.

Satu lagi skills yang beliau miliki adalah kemampuan untuk menjinakkan burung-burung sulit. Beliau ini ibaratnya pawang bagi penjinakan burung. Tak ayal berbagai burung telah berhasil beliau jinakkan; berbagai spesies jalak, rangkong, raja udang bahkan burung gerejapun berhasil beliau jinakkan . . .

Membersamai beliau bertiga ini, obrolan kami mengalir begitu saja. Obrolan yang tentu saja tidak jauh-jauh dari burung, prospek penangkaran burung, keprihatinan terhadap ancaman kepunahan berbagai spesies burung berpadu dengan bumbu berbagai impian seputar perburungan. Dalam balutan obrolan yang bernas ini macetnya tol menuju Taman Safari Cisarua tidak banyak saya rasakan.

Akibat parahnya kemacetan, perjalanan yang seharusnya hanya membutuhkan waktu 45 menit ini, kami tempuh selama 4 jam lebih. Namun sekali lagi  saya tidak merasakan adanya kebosanan akibat macet tersebut, justru yang saya rasakan seperti tengah menempuh kuliah semester pendek, dalam ruangan ber-AC dengan tiga professor yang sudah botak-botak akibat digerus pengalaman panjangnya. Mantab to ? Insya Allah kuliah 4 jam on the road yang akan menghijrahkan saya dari penangkar kelas kampong menjadi selevel dengan penangkar kelas Jabodetabek, aamiin . . .

Sampailah kami di tempat acara. Acara berlangsung cukup seru, dihadiri oleh orang-orang besar di dunia satwa. Ada pak Toni Sumampouw selaku tuan rumah, ada pak Mega dari MBOF, bu Emy dan bu Susi dari PBI, ada pak Badil dan yang terhormat  saya sendiri. . .he . . .he . . .he, maaf dari tadi kok saya gak disebut, ya saya sebut sendiri saja  xe . . .xe . . .xe.

Dalam pertemuan ini di luar acara formal, ada hal kecil yang menurut saya cukup menarik. Begitu rombangan kami masuk, ada seorang bule dengan senyum yang mengembang lepas, sangat bersemangat melambaikan tangan menyambut kedatangan kami dengan tanda persahabatan yang tulus. Eh . . siapa dia, apakah dia anggota kumpeni seperti yang dulu pernah diceritakan oleh pak guru waktu SD  ? Apakah dia mau balik menjajah negara kami terus mengemplang burung-burung kami,  begitu bisik hatiku.

Rombongan kami menuju ke bangku kosong yang berada di belakang si bule. Acara terus berlangsung, sesekali saya mendengar si bule ngomong dalam bahasa Indonesia beraksen Jerman beneran bukannya jejer kauman. Ooo . . .ternyata si bule ini bukan kumpeni, tapi bule Jerman. Ada apa dia di sini ?

Penasaranku tentang si bule ini sedikit memudar ketika sesi makan siang. Saat menuju Caravan Resto saya mendekati pak Sukardi untuk menelisik siapa bule ini sebenarnya. Menurut pak Sukardi, bule ini bukan orang baru dalam dunia perburungan. Empat tahun lalu si bule membangun penangkaran burung yang cukup besar di daerah Sukabumi. Bahkan dalam masa empat tahun itu si bule berhasil menangkarkan jalak putih sampai 500 ekor. . . .haaa . . .lima ratus eeekoorrr . . .??? Banyak amat ya ?

Berbekal sedikt informasi tersebut saat makan siang saya mendekati si bule. Nampak si bule duduk di kursi dekat sebuah meja bundar yang dikelilingi lima tempat duduk yang ditata rapi di restoran ini. Saya mengambil tempat duduk persis berhadapan dengan si bule. Kami ngobrol berlima. Saat saya mau bercakap dengan si bule saya agak ragu, sebab saya mesti menyiapkan bahasa Tarzan terlebih dahulu. 

Padahal jelek-jelek begini saya menguasai tiga bahasa loh. Pertama Bahasa Indonesia, terus Bahasa Jawa dan terakhir Bahasa Tarzan. Sayang dua bahasa yang saya kuasai justru tidak dia mengerti, terpaksa deh mengundang Tarzan. Akhirnya dialog dalam bahasa Tarzan ini hanya menghasilkan foto selvy he he he . . . dan sedikit informasi tentang penangkarannya.


Sekitar jam dua rombongan kami meninggal Taman Safari. Mobil pak Sukardi yang hanya berkapasitas empat orang terpaksa harus di isi dengan enam orang karena kami ketambahan dua orang kicau mania yang antic dan unik. Satunya perempuan, satunya ya si bule tadi. Ini orang perempuan jauh-jauh dari Nganjuk hanya untuk ngomongin burung, saya heran kok ada ya perempuan suka burung.

Perjalanan pulang ke Jakarta terhambat kemacetan, maklum ini akhir pekan. Di akhir pekan seperti ini, jalur Jakarta puncak dan sebaliknya bukanlah jalur yang ramah bagi siapa saja terutama bagi orang yang memburu waktu. Saya sangat gelisah dengan keadaan ini karena pukul 18.30 saya sudah harus sampai di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Ketika perjalanan baru sekitar sepuluh menit saya memutuskan untuk naik ojeg saja. Saya memutuskan untuk untuk mengejar kereta di stasiun Bogor saja. Lima puluhan kilo meter saya terombang-ambing dalam deru ojek yang melaju di jalanan yang disesaki mobil-mobil pribadi itu. Zigzag adalah cara terbaik yang dipilih pak ojeg, untuk mengejar waktu. Syukurlah sekitar pukul 15.46 saya sampai stasiun bogor. Ada waktu dua jam seperempat lagi untuk sampai di bandara cengkareng, moga tidak ada aral melintang.

Alhamdulillah kereta lancar. Sejam kemudian saya sudah sampai di stasiun Cawang dan sejurus kemudian sudah meluncur ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Taksi yang dikemudikan orang Purwokerto ini melaju dengan kencang, dan sebelum jadwal yang tertera di tiket saya sudah check in di Terminal 1B Bandara terbesar di Indonesia tersebut. Saya ngotot malam ini mesti kembali ke Klaten karena saya sudah janji untuk nganter  burung ke Tulungagung esok hari.

Awalnya saya janji hari sabtu tapi saya tunda hari Minggu, lah kalau tertunda lagi bisa-bisa konsumen kehilangan kepercayaan. Wah ini bisa gawat, karena pilar utama dari penangkaran saya adalah kepercayaan konsumen. Produksi lancar tanpa diimbangi kepercayaan konsumen maka stok burung akan numpuk. Jika stok numpuk bisa gawat. Iya toh. Makanya konsumen itu raja.