tulisan berjalan

Kontak Pak Syam WA 081280543060

Kamis, 14 Januari 2016

Alhamdulillah Tukang Burung (Jalak Bali Klaten) Sedang Sholih



Belasan tahun sudah saya menggeluti dunia burung. Awalnya bergelut dengan burung kenari, kemudian pindah ke burung jalak suren, lanjut ke burung cucak rawa dan sekarang menggeluti penangkaran burung jalak bali. 

Bergelut dengan dunia burung, wabil khusus di sektor penangkarannya adalah pergelutan yang mengasyikkan, meski juga harus di akui ini bukan pekerjaan ringan. Jadi ngeri-ngeri sedaplah ya  . . .

Membersihkan kandang, memberi pakan, mengganti air minum dan mandinya, membuat kotak sarang, memberi bahan sarang, meloloh piyik hingga siap jual dan seabreg kerjaan lainnya menjadi rutinitas harian yang tidak boleh ditinggalkan. Tak terasa itu semua saya lakoni selama rentang waktu belasan tahun. Alhamdulillah saya bisa melakoninya dengan senang hati . . .

Tak terlalu berlebihan jika sebagai tukang burung jalak bali saya mengatakan bahwa rasa-rasanya saya sudah menelan banyak asam dan mengunyah banyak garamnya penangkaran burung jalak bali. Karena suka dan duka sudah saya lewati bersama kandang dan burung-burung jalak bali saya dalam rentang waktu yang lumayan lama. 

Oh ya . . .rasa suka dan hati berbunga-bunga, biasanya mulai timbul pada saat melihat burung jalak bali saya sudah mulai unjal sarang alias bikin tarangan untuk bertelur. Jika sepekan kemudian burung jalak bali saya sudah terlihat angkrem maka hati ini semakin berbunga. Serius . . .

Dan jika dua pekan kemudian (masa eram burung jalak bali adalah empat belas hari) terndengar suara nan lembut ...iyik...iyik... iyik ...maka bunga-bunga di hati ini semakin bermekaran. Suara lembut ...iyik...iyik ...iyik... itu pertanda bahwa si piyik jalak bali sudah menetas. Dan kalau dua atau tiga bulan lagi burung jalak bali saya sudah terjual bunga-bunga semakin memenuhi hatiku. Begitulah cerita yang di alami oleh para tukang burung pada umumnya.

Dan efek penjualan burung tersebut, bisa menyebar ke mana-mana. Misalnya senyuman jadi gampang menghias bibir, ngguya-nguyu alias plengah-plengeh, binar-binar kegembiraan juga tak mau ketinggalan turut menghiasai mata, keceriaan segera datang menyertai diriku kemana-mana. Sehingga mendadak saya menjadi orang yang ceria, baik hati dan tidak sombong. 

Itulah yang biasanya terjadi jika burung-burung jalak bali saya berproduksi secara aktif dan penjualan berjalan secara lancar. Dan cerita seperti ini juga di alami oleh para tukang burung yang lain.

Namun sebaliknya jika sudah berbulan-bulan, si burung jalak bali kesayangan tidak menunjukkan upaya unjal sarang, bunga-bunga hati ini mulai redup. Jika sudah berkali-kali daun cemara di buat pancingan, gelodok sarang dibersihkan bahkan diganti yang baru, menu pakan ditingkatkan satu level dari jangkrik ke kroto, namun si burung jalak bali kesayangan tidak juga menunjukkan tanda-tanda bertelur, maka semakin ciutlah hati ini.

Jika hati sudah menciut maka benih-benih bunga yang tersemai dalam hati, mendadak layu. Tak ada setangkai kuncup bungapun yang mau mengembang. Efeknya bisa kemana-mana. Bibir ini menjadi berat untuk menyungging senyuman, mata ini rasanya jadi ngantuk terus, badan bawaannya jadi males. Ada masalah sedikit saja pinginnya marah-marah, dan seterusnya. Cerita ini juga umum terjadi di kalangan para tukang burung.

Itulah kira-kira suka dan duka, pahit dan getir serta asam garam yang senantiasa menghiasai perjalanan saya sebagai penangkar burung jalak bali. Bertahun-tahun rasa hati saya bolak balik antara rasa bahagia dan rasa sedih yang dikendalikan oleh burung jalak bali saya. Jika burung jalak bali saya berproduksi dengan baik maka hati ini langsung cerah dan hidup-pun terasa indah. Sebalikknya jika burung enggan bertelur, sedihlah hati ini dan hidup-pun terasa kurang bergairah. Lebay ya . . . ?

Tapi alhamdulillah akhir-akhir ini saya si tukang burung jalak bali ndeso ini mendadak menjadi sholih. Sebagai orang yang mendadak sholih tiba-tiba saya merasakan adanya kesadaran baru, bahwa hidup ini terlalu berharga untuk disedihkan oleh seekor burung, walau burung jalak bali sekalipun. Hidup ini mesti dibuat seindah mungkin, sebahagia mungkin, sesuai dengan fithroh kehidupan yang selalu ingin bahagia di dunia dan akhirat. Hidup tidak berboleh bergantung pada burung, suasana hati tidak boleh dikendalikan oleh hewan.

Saya bersyukur sejak timbulnya kesadaran itu hidup saya sebagai tukang burung jalak bali menjadi lebih indah. Hati ini selalu dipenuhi oleh rasa syukur. Dan alhamdulillah rasa syukur yang selalu bersemayam di dalam hati ini ternyata tidak hanya nyambung dengan suasana dalam kandang, namun juga nyambung dengan pasar. Hasilnya burung jadi produktif dan penjualan jadi lancar.

Buktinya sejak rasa syukur itu selalu hidup dalam hati, burung-burung juga semakin stabil bertelurnya, penjualan juga semakin lancar. Jadi rupanya kesadara baru ini telah memberikan buah di mana dengan menambahkan  rasa syukur ke dalam hati rupanya Allah menambah rejeki di dalam kandang. Mungkin ini yang oleh para ustadz di tipi diistilah dengan kalimat  “kalau kalian bersyukur maka nikmatmu akan ditambah“ (la in syakartum la azi dannakum)

Saya benar-benar baru merasakan bahwa ternyata menangkarkan burung jalak bali itu sederhana, dengan bersyukur saja sudah cukup. Baru kusadari ternyata keinginan yang berlebihan tentang target penangkaran burunglah yang menjadikan pekerjaan menangkarkan burung jalak bali menjadi rumit dan berat. Padahal kata para orang-orang sholih di tipi itu, hidup kita ini sebenarnya selalu dimudahkan oleh Tuhan “Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikanNya)  kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya” QS 27:73. Begitu kata mereka.

Baru kusadari ternyata kesedihan karena ketidakpuasan terhadap kinerja burung di kandang sebenarnya sekedar cerminan dari ketidaksiapan hati ini untuk pasrah, tidak mau melepas target karena merasa sebagai pemilik burung. Padahal jika kita mau ikhlas dan sadar bahwa burung yang ada dalam penangkaran kita semuanya milik Allah dan berjalan sesuai kehendakNya maka akan plong dada ini dan lega tanpa ada kesedihan  sedikitpun nyantol di hati. “Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan” (Qs. 3 :109)

Kini saya sangat bersyukur sekarang berada pada kesadaran fikiran seperti ini. Saya akan menjaga agar fikiran ini tetap berada pada posisi syukur ini seterusnya. Saya sangat menyadari bahwa fikiran ini sangat gampang berubah. Saking mudahnya berubah, ibaratnya semudah membalikkan telapak tangan. Untuk mengikatnya maka saya memerlukan tali pengikat berupa dzikir, menjaga ibadah terutama sholat dan tilawah al qur’an. Dan juga tak kalah pentingnya adalah menjaga pergaulan dengan orang-orang baik pada umumnya dan para penangkar burung yang sholih pada khususnya . . . mantab ya . . . he he he . . .

Jadi dalam kamus hidup saya sekarang tidak ada lagi istilah sedih berkepanjangan. Buat saya sekarang yang paling utama adalah merawat burung sebaik-baiknya sambil berdoa semoga Allah memberikan produktifitas yang tinggi dan stabil serta pemasaran yang lancar. Setelah itu saya pasrah. Kalau Allah memberikan rejeki saya bersyukur, tapi kalau Allah berkehendak untuk menyimpannya dan memberikannya di lain waktu ya saya sabar atas hal ini. Karena saya berkeyakinan bahwa itu semua adalah yang terbaik buat saya.

Saya berusaha untuk menjaga hati ini, agar tidak tertular dengan kebiasaan sebagian penangkar yang terlalu menuntut hasil dari penangkarannya secara berlebihan. Ada sebagian penangkar yang mematok hasil secara kaku. Di mana dia mentargetkan semua indukannya harus berproduksi. Untuk mencapai target tersebut maka segala suplemen pabrikan diberikan kepada si burung. Padahal sesungguhnya sebaik-baik suplemen burung adalah makanan alami. Maka pemberian suplemen terbaik bagi burung sebenarnya adalah makanan yang berasal dari alam, yaitu buah dan serangga. Bukan zat-zat kimia.

Menurut saya mereka terlalu terpaku pada persoalan teknis menangkar, sampai lupa bahwa berproduksi dan tidaknya burung kita, semuanya di tangan Allah. Tugas kita hanya menangkar dengan sebaik-baiknya, yaitu merawat dengan baik, dengan penuh kasih sayang, memberinya pakan yang terbaik, minum yang terbaik, mensuasanakan kandang senyaman mungkin. Jika semua prasyarat untuk tumbuhnya produktifitas tersebut sudah kita berikan, maka insya Allah produktifitas penangkaran kita akan meningkat. Sederhana kan ?

Alhamdulillah dengan mengambil sikap seperti ini, penangkaran saya semakin produktif dan penjualan juga lancar. Ya Allah tuntunlah hati ini untuk tetap berada dalam bimbinganMu, aamiin . . . (pak Syam, penangkar jalak bali klaten 081280543060)