tulisan berjalan

Kontak Om Breeder (Pak Syam) WA 081280543060

Selasa, 23 Juni 2015

AHA Breeding Klaten : Penangkar Burung Jalak Bali Klaten : Sedikit Panduan Dalam Membeli Burung Jalak Bali



Oleh : Pak Syam, penangkar burung jalak bali Klaten Hp / WA.  081280543060

Burung jalak bali merupakan burung cantik dan eskotik, oleh karena itu tentu saja dia sangat sangat menarik. Saking cantiknya, eksotiknya dan menariknya makanya tidak mengherankan jika burung jalak bali menjadi sangat menggoda untuk dikoleksi oleh siapapun.

Maka dari itu tidaklah mengherankan jika banyak penggemar burung yang penasaran dengan burung jalak bali. Rasa penasaran ini telah mendorong mereka untuk berburu ke pasar-pasar burung, pengepul dan pedagang burung maupun ke penangkarnya langsung. Sayangnya dalam perburuan tersebut tidak sedikit di antara para kicau mania tersebut yang berburu burung jalak bali bali tanpa perbekalan yang memadai. Lah piye to . . .berburu kok tanpa bekal . . .

Ooooo . . .jadi perlu bekal ya ? Lah terus bekalnya berburu burung jalak bali ini apa ? Perbekalan itu maksudnya pengetahuan tentang burung jalak bali itu sendiri dan pernak-pernik yang menyertainya. Pernak-pernik itu maksudnya adalah : legalitas burung, motif pembelian burung jalak bali ( apakah untuk ditangkarkan atau sekedar hobi ) layanan pasca beli ada apa tidak, integritas penangkar atau pedagangnya sudah teruji apa belum, tawaran harga kemurahan atau ketinggian, dan lain-lain.

Sangat disayangkan karena di lapangan banyak sekali penggemar burung yang tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang pernak-pernik di atas. Bahkan dari berpuluh kali pengalaman penulis melayani para calon konsumen, penulis menemukan mayoritas calon konsumen masih awam tentang burung jalak bali apatah lagi tentang pernak-perniknya tersebut.

Sekedar contoh, ada calon konsumen yang bercerita bahwa dia telah tertipu saat membeli burung jalak bali melalui online karena tergiur harga yang murah, ada yang mengaku telah membeli burung jalak bali namun ragu mengenai legalitasnya terkait dengan keaslian surat-surat atau dokumennya, ada yang curhat tentang kekecewaannya kepada pedagang atau penangkar yang tidak mau melayani konsultasi terkait dengan bagaimana cara menangkarkan burung jalak bali yang baik dan benar agar penangkarannya produktif. Dan seabreg pernak-pernik lainnya. Kasus-kasus seperti ini sangat sering saya temui.


Sebenarnya persoalan di atas tentu saja tidak boleh menimpa kita. Namun kenyataannya dari hari ke hari penulis masih menerima keluhan-keluhan serupa. Kenapa persoalan itu masih saja terjadi ?

Kalau menurut penulis kasus-kasus di atas masih terus terulang, karena masih banyaknya konsumen burung jalak bali yang awam terhadap burung jalak bali dan segala pernak-perniknya tersebut. Jadi ibarat kita mau belanja baju, kita tidak mengenal sama sekali merk baju atau celana yang akan kita beli. Maka bisa dibayangkan betapa bingungnya kita untuk menentukan pilihan mana yang bagus dan layak dibeli.

Belum lagi jika di pasar tersebut ada oknum pedagang yang tidak jujur. Jika ada pedagang yang tidak jujur, maka  tidak mustahil dia akan melakukan penipuan kepada calon konsumen. Dan calon konsumen yang masih awam tentu saja bisa menjadi sasaran empuk. Iya to . . . .Oleh karena itu maka mengenal jenis barang yang akan kita beli plus segala pernak-perniknya, menjadi pengetahuan yang mutlak untuk kita miliki.

Demikian juga jika kita akan membeli burung jalak bali, kita juga harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang burung jalak bali tersebut. Demikian juga dengan pernak-perniknya.

Khusus berkaitan dengan asal pembelian burung. Saran saya belilah burung jalak bali kepada pedagang yang memiliki integritas bagus. Atau jika anda akan membeli burung jalak bali untuk ditangkarkan maka usahakan untuk membelinya langsung kepada penangkar. Dan jangan lupa cek integritas dari sang penangkar dan kesediaannya untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam menangkar burung jalak balinya. Karena tidak semua penangkar bersikap terbuka terhadap ilmu dan pengalamannya.
Berikut ini sedikit panduan dari #JalakBaliKlaten :
  • Teliti sebelum membeli; jangan hanya terkecoh pada harga yang murah. Hal ini sangat penting, karena pada dasarnya burung yang bagus lazimnya berharga lebih mahal dibanding burung yang kurang bagus. Sangat jarang burung bagus tapi berharga murah. Karena sebenarnya prinsip dalam bertransaksi burung sama dengan bertransaksi barang pada umumnya; ada harga ada barang. Berhati-hatilah jika ada tawaran burung jalak bali yang murah. Cek legalitasnya, cek kejujuran penjualnya, cek kesehatan burungnya dan lain-lain.
  • Tetapkan motif membeli sejak awal; apakah membeli burung jalak bali untuk di jadikan peliharaan sebagai hobi semata atau membeli burung untuk ditangkarkan. Penetapan motif pembelian ini penting, karena perbedaan motif dalam membeli akan membedakana criteria burung yang akan kita beli. Jika kita membeli burung jalak bali untuk memenuhi hobi maka asal burungnya sehat, dan sedikit pengetahuan tentang bagaimana rawatan hariannya, itu sudah cukup.  Tapi jika motif kita dalam membeli burung jalak bali adalah untuk ditangkarkan maka kita masih memerlukan seabreg pengetahuan tentang lainnya. Baik yang menyangkut burungnya, managemen kandang ( bahan, ukuran, kenyamanan, sarang, pakan dll ), perawatan anakannya jika sudah berproduksi, perawatan trotolan  dan lain sebagainya.
  • Jika motif pembeliannya untuk ditangkarkan maka saran saya belilah burung langsung ke penangkarnya. Karena itu sejak awal tentukan penangkar mana yang akan anda jadikan rujukan. Hal ini sangat penting karena motif kita adalah menangkar. Sebagai penangkar baru, kita butuh back-up pengetahuan dan pengalaman dari penangkar senior. Maka sekarang tugas penting kita adalah mencari penangkar burung jalak bali yang bersedia untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam menangkar burung jalak bali. Jika kita telah menemukan penangkar yang bersedia untuk berbagi tersebut maka PR kita pada point dua di atas akan bisa kita selesaikan dengan happy ending. Insyaa Allah . . .  

Kamis, 09 April 2015

AHA Breeding Klaten : Penangkar Jalak Bali nDeso, Mental Kota, Hasilnya Joosss . . .


Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9


Berpuluh kali saya menerima sms, bbm, WA, telepon maupun kunjungan langsung dari para kicau mania untuk omong-omong soal penangkaran burung jalak bali. Ngomongnya kadang ngalor ngidul alias ke sana kemari, tapi under-underane nanti balik maning nang penangkaran burung jalak bali. Ibaratnya sejauh-jauh blekok terbang, kemana saja dia muternya dia bakal balik ke sawah juga. Biasanya begitu . . .

Setelah balik maning nang penangkaran burung jalak bali, obrolan wabil khusus akan mengerucut kepada tema “gimana caranya menjadi penangkar burung jalak bali yang joss . . . . ? Ini dia topic obrolan yang paling disukai oleh para penangkar jalak bali dan calon penangkar jalak bali yang berencana menerjuni dunia penangkaran.

Satu hal yang sangat sering saya temui dalam obrolan tersebut adalah seringnya saya mendeteksi adanya “penyakit mental sukses” dari para penangkar maupun calon penangkar burung jalak bali tersebut. “Penyakit mental sukse” ini adalah bahasanya orang kota. Dan kata orang-orang kota tersebut, jika penyakit tersebut masih bersarang dalam fikiran kita, maka impian untuk menjadi penangkar burung jalak bali yang josss . . . hanya sekedar mimpi semata. Waduh gawat . . .


Kata mereka “penyakit mental sukses” wujudnya berupa pikiran yang ngerecoki, ngganggu, nggandoli seorang penangkar untuk mengembangkan penangkarannya.
Dari mana saya bisa mendeteksi bahwa sebagian di antara mereka mengidap penyakit mental yang bakal menghalangi mereka untuk mewujudkan diri mereka menjadi penangkar burung jalak bali yang josss tersebut ?

Saya mendeteksi keberadaan mental penghalangan tersebut dari cara berfikirnya. Cara berfikir ini biasanya saya ambil dari cerita mereka sendiri. Atau dari pertanyaan yang mereka ajukan.

Misalnya begini. Ada seorang calon penangkar burung jalak bali dari Jombang Jawa Timur, sebut saja namanya Heru. Dia cerita bahwa dia sangat berkeinginan untuk menjadi penangkar burung jalak bali. Namun cerita yang panjang itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan yang menjadi pemutus keinginannya untuk menjadi penangkar burung jalak bali tersebut, begini “Kalau saya nanti menjadi penangkar, kemudian burung-burung saya sudah beranak pinak dengan banyak, apakah nanti saya bisa memasarkan”.

Mas Heru ini bercerita bahwa sepengetahuan beliau pasar burung jalak bali tidak seluas burung lain seperti burung dara, kenari, murai batu, kacer dan lain-lain. Karena potensi pasarnya tidak seluas burung-burung tersebut dan segmennya hanya kelas orang gedongan maka jika nanti beliau sudah berhasil mengembangkan burung jalak bali dalam penangkarannya maka dia akan susah sendiri karena dia pasti kesulitan untuk memasarkannya.

Kalau begitu fikiran penjenengan ya bagus, artinya penjenengan orangya berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dan itu bagus juga sih . . . Tapi dalam hati yang paling dalam saya memaknai kehati-hatian beliau ini sebagai penyakit mental sukses, karena saking hati-hatinya menyebabkan dia tidak jadi melangkah. Menurut saya sikap hati-hatinya kurang proporsional, sehingga malah berubah menjadi penyakit mental sukses.

Di lain waktu, seorang calon penangkar lainnya menceritakan keinginannya untuk menjadi penangkar jalak bali. Dengan bahasa halus dia mengatakan bahwa “saya minta bimbingannya pak syam”. Setelah bercerita panjang lebar akhirnya keinginannya untuk menjadi penangkar burung jalak bali yang josss . . .tersebut kepentok pada rasa takutnya sendiri karena menurut dia menangkarkan burung jalak bali itu sulit.

Karena menangkarkan burung jalak bali itu sulit maka dia khawatir jika sudah kadung membeli burung jalak bali yang berharga mahal itu nantinya gagal menangkarkannya. Untuk menghindari kerugian, mending investasi pada penangkaran burung yang harganya terjangkau tapi memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, seperti kenari atau murai batu biasa.

Ya . . . terserahlah, karena pada akhirnya keputusan untuk menangkarkan burung jenis apa, semuanya terpulang kepada penjenengan sendiri. Sama dengan kasus yang pertama di atas, dalam kasus ini saya juga mengkategorikan kekhawatirannya sebagai penyakit mental juga.

Calon penangkar burung jalak bali lain yang juga menceritakan kepada saya adalah calon penangkar burung jalak bali dari Batang Jawa Tengah dan Kediri Jawa Timur ( yang sedang mengadu nasib di Malaysia, sebagai TKI). Dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama beliau berdua menceritakan kasus pembelian burung jalak bali untuk ditangkarkan. Namun keduanya memeiliki nasib yang sama yaitu tertipu. Uang muka yang telah dia transfer menguap begitu saja karena paket kiriman burung tidak kunjung diterima dan penjual tidak bisa lagi dihubungi.

Dalam kasus ini saya mengkategorikan calon penangkar kita ini sebagai orang yang terkena penyakit mental sukses. Karena mereka berdua ini begitu mudahnya ditipu oleh seseorang yang mengaku pedagang burung jalak bali. Pancingan dari sang penipu langsung saja ditangkap begitu penjual menawarkan harga burung jalak bali dengan harga yang sangat miring. Harga yang ditawarkan kurang dari separoh harga burung jalak bali di pasaran. Demi didengarnya ada penjual burung jalak bali yang menjual dengan harga yang sangat murah maka dia langsung menyetuji. Inilah kesalahan mereka. Di sinilah penyakit mental sukses itu bersarang.

Jika mereka berdua tidak terjangkiti penyakit mental sukses, maka dengan melihat harga yang semurah itu, mestinya sang calon penangkar burung jalak bali segera menaruh curiga, bukan justru merasa mendapatkan keberuntungan.

Dalam prakteknya memang banyak calon penangkar yang berencana membel burung jalak bali yang mendasarkan keputusannya kelak kepada harga burung semata-mata. Dia hanya focus pada harga yang murah saja. Padahal sesuai hukum pasar bahwa harga bersesuaian dengan kualitas barang. Kadang memang ada sih, barang dengan kualitasnya bagus tapi dijual dengan harga di bawah standart. Namun hal ini tentu saja frekwensinya jarang.


Nah calon penangkar burung jalak bali kita kali ini, rupanya menganut prinsip ini. Mungkin mereka berdua berfikiran bahwa “Apa salahnya jika ada burung jalak bali berharga murah saya beli, toh kualitas burung jalak bali itu sama saja”. Maka dibelilah burung jalak bali berharga miring tersebut, namun ternyata dugaannya meleset, dia tertipu.

Rabu, 01 April 2015

AHA Breeding Klaten : Bahagia ala Tukang Burung ( Jalak Bali )


Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9


Sabtu pagi kemarin cuaca cerah sekali, secerah hati pak Syam. Dengan rengeng-rengeng syair tanpo waton Gus Dur, pak Syam mengganti pakan dan minum burung jalak balinya. “Ngawiti ingsun nglaras syi’iraaaannn . . . kelawan muji maring peeengeran . . . kang paring rohmat lan kenikmatan . . .rino wengine tanpo pitungan” . . . begitu suara nyanyian pak Syam mengikuti suara bariton syi’iran Gus Dur.

Sabtu pagi memang hari istimewa buat pak Syam. Karena itulah waktu yang bisa dimanfaatkan buat berdekat-dekatan dengan si burung cantik jalak bali di kandang penangkarannya. Buat seorang penangkar burung jalak bali semacam pak Syam ini, berdekat-dekatan dengan burung jalak bali dalam penangkarannya bisa memberikan sensasi tersendiri. Itulah asyiknya menjadi penangkar burung jalak bali.

Kata pak Syam, penangkar burung jalak bali yang bisa menyertakan hatinya ke dalam aktivitas penangkarannya akan bisa menyulap aktivitas menangkar menjadi kegiatan yang terasa nikmat untuk dijalani. Saat membersihkan kandang, saat menggati pakan, saat mengganti air untuk minum dan mandinya burung, saat meloloh piyikan, saat membuat gelodok tempat sarang, saat mencari daun cemara untuk bahan sarang adalah sederetan kegiatan yang sebenarnya melelahkan tapi sekaligus mengasikkan. Bagi penangkar yang menyertakan hatinya dalam penangkaran maka kelelahan itu membawa kenikmatan. Setidaknya itulah yang selama ini dirasakan oleh pak Syam saat merawat burung-burung dalam penangkarannya.

Di tengah keasyikannya merawat burung-burung jalak bali di kandang belakang tersebut, istrinya memberitahu ada tamu yang datang. “Pak . . .itu ada tamu,” kata istrinya yang sedang memasak di dapur. “Bau tempe gorengnya . . .sedap nyeeee . . .” kata pak Syam yang terganggu dengan aroma tempe goreng yang menyeruak dari dapur. “Halah . . .bapak ini  . . . malah kayak si Upin saja, wong ada tamu kok malah ngurusi tempe goreng,” kata istrinya “Oh . . .lah ibu goreng tempenya pinter banget . . . sedap nyeee . . . he he he . .  .” jawab pak Syam sambil tertawa.

Sejurus kemudian kang Iwan shohib pak Syam di dunia perburungan, diantar istri pak Syam menemui di kandang belakang.

“Assalamu’alaikum pak Syam,” sapa kang Iwan yang segera disambut oleh pak Syam “Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.”

Setelah saling berbasa basi menanyakan tentang kabar masing-masing akhirnya mereka terlibat dalam pembicaraan yang serius, namun tetap dalam suasana santai. Sesekali terdengar canda tawa di antara mereka.

“Jadi begini pak Syam,” kata pak Iwan. “Ooo . . .jadi begitu kang Iwan,” jawab pak Syam menggoda. “Wah pak Syam ini . . .wong saya baru memulai cerita kok sudah di jawab,” kata pak Iwan memprotes. “La . . . penjenengan mengawali ceritanya dengan . . .jadi begini . . .ya saya jawab . . .ooo jadi begitu . . .he he he ‘” tawa mereka pecah bersama-sama.

“Pak Syam . . .serius nih . . .kenapa ya saya kok  merasa bosen dengan hidup saya,” kata kang Iwan Serius. “Bosen gimana . . . wah bahaya itu . . . kita hidup mesti bersemangat kang Iwan,” kata pak Syam tak kalah seriusnya.

“Saya merasa hidup saya kok begini begini terus . . . gak ada kemajuan . . . burung juga gak berkembang . . . indukan pada macet terus . . . harga jalak suren malah terjun bebas,” kata kang Iwan nyerocos terus. Sementara pak Syam dengan serius hanya menjawab “OOOooo . . .’” sebagai tanda tidak mengerti.


“Saya merasakan hidup ini hambar pak, agak ada variasinya, gak ada nikmatnya . . . tolong nasihati saya pak Syam !” pinta kang Iwan. Sementara pak Syam yang di mintai nasihat dari tadi hanya mengatakan “OOOooo . . . begitu ya ?” dia malah balik bertanya.

“Apa lagi masalah saya itu lo pak Syam . . . masalah saya hanya itu ituuu saja . . . paling masalah duit, masalah burung yang gak bertelur, burung yang susah pemasarannya . . . hanya itu ituuu saja . . . saya sampai bosen dengan hidup saya sendiri’” kata kang Iwan. Sementara pak Syam masih konsisten dengan jawaban semula,”OOOooo . . . begitu ya . . .?” pak Syam malah balik bertanya.

“Pak Syam ini gimana to . . .wong dimintai nasihat kok malah . . .OOOooo . . . begitu ya . . . kasih solusi dong,” kata kang Iwan sewot. “Kang Iwan . . . bukannya saya tidak mau membantu teman . . . tapi saya benar-benar tidak tahu saya harus berbuat apa. Saya sendiri juga tidak mengerti. Saya juga sering kok merasakan seperti yang sampean rasakan itu,” kata pak Syam serius. Kali ini memang serius, pak Syam benar-benar tidak mengerti apa solusi yang bisa diberikan kepada kang Iwan.

Sejurus kemudian, ada malaikat lewat,”Cling . . . aha . . . aku ada ide, bagaimana kalau kita silaturahim ke rumah pak Mudzakir . . . kita minta tausyiyah kepada beliau . . . saya yakin beliau bisa memberikan pencerahan kepada kita . . . beliau itu tukang kompor maksudnya suka memberi motivasi,” kata pak Syam yang gentian nyerocos. “Oke . . . saya setuju, kita kesana kapan ?” jawab kang Iwan tidak kalah semangatnya. “Kalau begitu besok pagi kita ke sana,” kata pak Syam yang di amini oleh kang Iwan.

Pagi ini sekitar pukul tujuh, pak Syam dan kang Iwan macak necis menuju masjid Raya Klaten. Loh kok pergi ke masjid Raya Klaten ? La kok tumben ?

Dengan mengendarai sepeda kumbang mereka nampak riang bersepeda bareng puluhan orang yang sedang menikmati car freeday menuju TKP di Alun-alun Klaten dan sekitarnya. Ya . . . setiap minggu pagi jalur sepanjang jalan Pemuda Utara, Pemuda Tengah dan Pemuda Selatan Kota Klaten, memang difungsikan sebagai area car freeday. Ratusan orang bahkan mungkin ribuan orang setiap Hari Ahad pagi tumpah ruah di jalan-jalan tersebut menikmati sejuknya udara pagi sambil cuci mata dan menikmati berbagai sajian kuliner di sepanjang jalan tersebut.

Tak terkecuali pak Syam dan kang Iwan, meski dengan tujuan untuk menghadiri pengajian Ahad pagi yang digelar di pelataran Masjid Agung (Masjid Raya) Klaten yang terletak di sebelah utara Alun-Alun kota Klaten yang pagi ini mejadi jantung yang menghubungkan urat nadi keramaian car freeday . . . Mereka berdua tampak menikmati sekali acara car freeday pagi ini. Maklum tukang burung, masuk kota.

Mereka berdua mendatangi pengajian Ahad pagi karena ada janji untuk bertemu dengan bapak Mudzakir, mubaligh kondang yang mengisi pengajian Ahad pagi kali ini. Sedianya beliau akan menyediakan waktu untuk konsultasi setelah pengajian selesai. Jika bukan karena sudah terikat janji mungkin mereka berdua akan lebih suka menikmati car freeday saja.

Singkat cerita, setelah muter-muter alun-alun sampai capek disambung dengan pengajian Ahad pagi sambil menahan kantuk selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka berdua menemui pak Mudzakir di aula lantai satu Masjid Agung (Masjid Raya) Klaten.


Dengan senyum khasnya Bapak Mubaligh kondang ini bertanya, “Ada apa to ada apa . . .kok seperti ada masalah penting,”

“Begini pak ustadz,” kata pak Syam memulai pembicaraan yang segera saja di sambut  pak Mudzakir,”OOOooo . . .begitu to.” Kang Iwan terkekeh yang diikuti tawa yang lain . . .

Selasa, 24 Maret 2015

AHA Breeding Klaten : Tukang Burung, Berhutang Untuk Beli Burung (jalak Bali), Malah Bingung . . . . Lah . . . Piye to ?

Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9



Sore itu kang Gito tampak keheranan atas kejadian yang dialaminya. “Kok bisa ya . . . heran saya . . .kok bisa ya ?” gumamnya berkali-kali. “Saya benar-benar heran kok bisa. Uang yang satu juta itu kemana ya ? tanyanya kepada diri sendiri.

“Ada apa kang Gito, kok gemremeng sendirian ?” tanya Hari mengagetkan. “Eh kamu to Ri. Kaget aku . . . ini lo aku kehilangan uang satu juta,” kata kang Gito menerangkan. “Hilang di mana Kang ?” tanya Hari. “Nah itu yang aku bingung. Untung istriku belum tahu, kalau tahu . . . walah bakal ada perang baratayuda ini,” katanya panjang lebar.

“Loh . . .gimana to kang Gito ini kehilangan uang kok gak ngerti hilangnya di mana ?” kata Hari keheranan. “Lah kalau aku ngerti hilangnya di mana . . .ya nggak jadi hilang to Leee . . . cah stress tenan kamu ini,” jawab kang Gito geregetan. “Iyaa . . . iyaa . . .maaf kang,” kata Hari.

“La kejadiannya gimana to kang ? sambung Hari.

“Gini lo Ri ceritanya. Kemarin saya kan ditawari sepasang  burung jalak bali harganya 17 juta sepasang. Tapi saya gak punya uang sebanyak itu. Karena saya kepingin banget punya burung jalak bali, terus saya pinjam uang kepada Mas Haryo. Tapi dia hanya punya 10 juta, terus saya nambah lagi ngutang kepada mas Seno juga 10 juta. Setelah itu saya bayarlah burung itu sebesar 17 juta, sisanya kan 3 juta.  Trus saya masukkan ke dalam dompet.” Kata kang menceritakan.

“Oke . . . manteb, punya burung jalak bali dan masih punya 3 juta di dompet. Manteb kang !” komentar mas Hari.

“Manteb gundulmu itu Le .  .  . “! bentak kang Gito sewot.
“Iya . . .iya . . .maaf kang. Terus gimana kang ?” tanya Hari.

“Saya lanjutkan ya . . . terus sore harinya saya pikir-pikir kok sisanya masih banyak ya. Terus saya punya inisiatif untuk mengembalikan uang itu, masing-masing 1 juta kepada mas Haryo dan 1 juta kepada mas Seno. Biar besok mengembalikannya jadi agak ringan. Jadinya hutang saya kepada mas Hario menjadi 9 juta dan kepada mas Seno juga tinggal 9 juta. Sekarang saya punya sisa pengembalian tersebut cuma 1 juta. Padahal 9 + 9 = 18. Yang 1 juta itu lo ke manaaa . . . . ??? ” lanjut kang Gito.

 “Loh gimana sih kang Gito. Coba kita hitung lagi. Total hutang kan 10 juta + 10 juta. Jadinya 20 juta. Terus untuk membeli burung jalak bali seharga 17 juta, berarti masih sisa 3 juta. Terus kembalikan kepada mas Hario dan mas Seno masing-masing 1 juta. Nah 9 juta + 9 juta kan 18 juta, itu sekarang sisanya tinggal berapa ? tanya Hari tak kalah bingungnya.

"Satu juta" jawab kang Gito.  “Lah . . . kok bisa begitu . . . Yuk kita hitung lagi, biar jelas !” kata Hari mengajak menghitung bersama-sama.

“Oke sekarang kita hitung bersama-sama ya . . . 9 + 9 + 1 =  19” kata mereka serempak.  “Nah to . . . totalnya kan hanya 19 jt to . . . Kan harusnya 20 juta. Yang satu juta kemanaaaa . . .bingung saya ?” kata kang Gito makin kebingungan.

Di tengah kebingungan yang tak tentu arahnya itu datanglah si Danang,”Ada apa ini . . .ada apa . . .hah . . . ada apa ?” tanya Danang sambil ngeledek. “Ada apa . . . ada apa .  .gundulmu itu. Aku ini sedang pusing kok kamu malah bikin onar saja !” kata kang Gito diliputi emosi tingkat tinggi.

“Sabar kang . . .sabar . . .gitu saja kok marah, memang ada masalah apa ? tanya Danang menenteramkan kegalauan Kang Gito.

“Ini lo Nang, kang Gito kehilangan uang satu juta rupiah,” jawab Hari. “Wah kang Gito kehilangan uang satu juta rumah . . . dimana hilangnya.? tanya Danang tampak kaget.
Akhirnya Hari menceritakan pengalaman yang baru saja di alami pak Gito dari A sampai Z. “Ha . . . ha . . . ha . . . “ Danang tetawa terbahak-bahak. “Hai kok malah tertawa kamu Nang, bukannya sedih temannya kehilangan uang satu juta ?” tanya Hari. “Memang Danang itu bocah stress kok, dia seneng kalau ada orang susah. Dia sukanya menari di atas penderitaan orang lain,” kata kang Gito bersungut-sungut.



“Maaf . . .maaf kang Gito . . . . kok sensitive sekali to. Aku tertawa karena aku juga pernah mengalami kisah kayak gitu. Malah lebih parah. Karena ketahuan istriku akhirnya pecah deh perang baratayuda di rumahku. Saya hutang 10 juta malah hilang 16 juta,” jawab Danang. Kemudian dia menceritakan pengalamannya setahun lalu.

Waktu itu dia pingiiiinnnn banget memiliki kenari jagoan seperti si Bagong kenari milik mas Agus yang bisa dibawa ngamen ke berbagai lomba kicau. Lumayan sebulan bisa ikut lomba 3-4 kali. Sekali turun bisa mendapat 300 -750 ribu. Lumayan to ? Bahkan pernah sebulan turun turun full empat kali dan menggondol juara satu terus, total hadiahnya dapat tiga juta.
Danang ngiler mendengar cerita tersebut. Kemudian dia bermaksud membeli kenari F2 seharga 7 juta. Tapi sayang karena penangkaran kenarinya sedang surut dia tidak memiliki uang. Dia memutar otak,”Ahaiii .. . aku ada ide,” katanya sambil melompat “Yessss . . .!!!

Ide apa itu ? Jawabannya ada di dompet istrinya. Berhari-hari dompet istrinya menjadi sasaran. Dan kesempatan itupun akhirnya tiba juga. Dia mengambil dompet istrinya di lemari baju kamar tengah. “Wah ada 5 juta. . . masih kurang 2 juta nih,” bisiknya. Setelah itu dia meminjam uang kepada si Iwan juga 5 juta. Kelebihannya sebesar 3 juta mau dia buat beli amunisi untuk persiapan lomba bulan depan yaitu kandang yang bagus, estra fooding yang joss, kaos gambar kenari untuk dirinya dan tim soraknya.

Maka sore itu dia membayar kenari jagoannya. Setelah burung di bayar uangnya masih tersisa 3 juta. Kemudian dia pikir-pikir lagi. Sisa 3 juta kebanyaan ah . . .Maka diam-diam dia mengembalikan uangnya 1 juta ke dalam dompet istrinya. Dan 1 juta lagi dikembalikan kepada Iwan.

Tapi kok di dompetnya juga tinggal satu juta. Berkali-kali dia menghitung hutangya. Hutangnya 5 + 5 = 10. Dikembalikan 1 ke dompet dan 1 juta ke mas Iwan . kok ini sisanya tinggal satu juta. Dia menghitung lagi : 4 +4 = 8 . . .kok ini sisanya tinggal 1 juta . . .??? Yang 1 juta lagi kemanaaaa . . . ???

Di tengah kepanikan karena kehilangan uang satu juta . . . tiba-tiba dari jarak sekitar lima meter, ada sesosok perempuan paro baya berbadan gemuk mamakai daster hijau. “Kamu jadi tuyul ya sekarang . . .” teriaknya sambil memukul tubuh Danang berkali-kali. “Kamu nyolong duit saya di lemari ya,” katanya sambil terus memukuli suaminya dengan sapu lidi. Bahkan pukulannya semakin kencang saja. Danang babak belur . . .

“Ampun-ampun . . .ampun bune. Jangan mukuli terus,” kata Danang meminta ampun kepada istrinya yang kalap karena uangnya dia colong. Karena kalap uang hasil panen melinjo dicolong suaminya, dia tetap memukul suaminya. Tidak cukup sampai di situ bahkan dia juga menyabet kurungan burung kenari yang tergantung di sebelahnya, sampai berantakan. Dan burung kenari F1 yang baru saja dibeli Danang ngacir ke pohon mangga depan rumah.

“Wah tujuh juta . . .terbang . . .,” teriak Danang. “Hah . . . jadi uang sebanyak  itu kamu belikan burung itu  kang . . .? kata istrinya menjerit.

Rabu, 18 Maret 2015

AHA Breeding Klaten : Penangkar Burung Jalak Bali Klaten : Tukang Burung Terdampar di Stasiun Purwokerto


Sebagai tukang burung, saya biasa wira-wiri naik kendaraan umum menyinggahi berbagai kota di pulau Jawa. Selama ini saya memang seringnya gak sampai hati jika mengirim burung pakai jasa pengiriman hewan pada umumnya. Gak tahu kenapa begitu. Rasanya gak enak saja.

Selama masih bisa dijangkau oleh kereta api, atau didatangi dengan perjalanan darat lainnya, saya sering mengantarkan burung jalak bali pesanan konsumen sampai ke alamat. Konsekwensi atas pilihan ini maka saya sering wira-wiri alias bolak-balik naik kendaraan umum, terutama kereta api.

Sebenarnya saya paling senang jika pembeli memiliki waktu untuk datang sendiri ke gubug saya di Klaten. Dan Alhamdulillah memang banyak juga penggemar burung jalak bali yang mampir ke gubug saya. Biasanya mereka sekalian melihat-lihat kandang penangkaran burung jalak bali saya, nanya-nanya cara merawat burung jalak bali, ingin melihat langsung bagaimana cara menyuapi burung-burung jalak bali yang masih berusia dini dan lain-lain.

Tentu saja selama menjalani aktivitas wira-wiri tersebut, ada banyak pengalaman yang layak untuk saya catat. Salah satunya yang saya alami awal pekan ini.
Seperti biasanya sore itu saya diantar istri dan ditemani si bungsu, Azzam ke Stasiun Kereta Api Klaten. Sore itu saya akan berangkat ke Jakarta.

Berkereta dengan tujuan ke Jakarta, dalam beberapa bulan ini saya biasa pakai kereta api Senja Utama Jogjakarta. Saya pilih kereta ini karena jam keberangkatannya yang enak yaitu pukul 20.30 dari stasiun Tugu Jogjakarta dan sampai di Stasiun Jakarta Pasar Senen menjelang pukul 5 pagi. Menurutku ini waktu yang pas untuk bepergian ke Jakarta. Kalau ikut kereta lain, sampainya di Jakarta kepagian, masih gelap  . . . ngerii . . . banyak kejahatan. Kalau sampainya kesiangan, panas . .. ngerii . . .macet . . . he he he . . .

Setelah membeli tiket kereta api Lodaya (untuk transit di Jogjakarta) saya masih ada waktu untuk bercengkerama dengan istri. Tak lama kemudian ada pengumuman kereta api Lodaya akan segera masuk ke jalur satu. Penumpang berjejal memasuki pintu kereta api jurusan Bandung itu.

Di sore yang cerah itu kereta api Lodaya membawaku menuju stasiun kereta api Tugu Jogjakarta. Setelah selesai sholat isya seperti biasanya saya menyempatkan diri untuk pijet terlebih dahulu beberapa saat. Sejak dilakukan perbaikan managemen di PT. KAI kini di Stasiun Tugu Jogjakarta terdapat tiga corner yang menyediakan kursi pijat elektronik. Murah meriah, hanya dengan selembar uang sepuluh ribu rupiah kita bisa melepaskan ketegangan otot-otot kita selama sepuluh menit. Saya hampir ajeg memanfaatkan jasa pijet ini, lumayan untuk sekedar relaksasi dan melenturkan otot-otot punggung.

Tak lama kemudian kereta api Senja Utama Jogjakarta siap meluncur membawa penumpang menuju Jakarta. Sekitar setengah jam kereta meluncur. Kondektur memasuki gerbong enam tempat saya duduk, untuk melakukan pemeriksaan tiket. Tiket saya berikan. Agak lama kondektur memandangi tiket. Ini gak biasanya. Kemudian dengan tenang dia mengatakan,”Tiketnya salah pak. Ini tiket kereta api Senja Utama Solo yang berangkat pukul enam sore tadi.”

Dengan rasa tidak percaya saya minta tiket tersebut. Kemudian saya pelototi, alamaaak . . . teryata memang benar ini tiket kereta api Senja Utama Solo. Wah saya salah naik kereta dong . . .

Pak kondektur mengatakan bahwa saya harus turun dari kereta Senja Utama Jogjakarta ini, karena saya tidak memiliki tiketnya. “Gimana pak mau turun di Stasiun Wates atau Stasiun Kutoarjo ?” tanya Kondektur. “Kutuarjo saja pak,” jawab saya singkat. Saya memilih untuk turun di Stasiun Kutoarjo dengan niat untuk membeli tiket lagi, seadanya tiket kereta api merk apa saja gak masalah asalkan jurusan ke Jakarta.

Saya diminta untuk pindah ke gerbong restoran . . . biar gampang memantaunya . . . sebagai pesakitan saya, saya tidak terlalu terpengaruh dengan kasus ini . . .

Menjelang Stasiun Kutoarjo kondektur menghampiri saya,”Maaf pak, saya lupa Kereta Senja Utama Jogjakarta tidak berhenti di Stasiun Kutoarjo, tapi berhentinya di Stasiun Gombong. Gimana pak , apa sekalian turun di Stasiun Purwokerto saja ?!” Saya menyetujui sarannya, mengingat Stasiun Gombong adalah stasiun kecil sehingga peluang untuk bisa mendapatkan tiket ke Jakarta semakin kecil

Sekitar pukul 23.00 saya sampai di Stasiun Purwokerto. Begitu kereta berhenti saya langsung berlari ke loket dengan menyerobot melalui pintu masuk. Segera saya menuju loket satu dengan harapan bisa mendapatkan tiket kereta Senja Utama Jogjakarta yang barusan saya tumpangi. Namun nasib berkata lain, saya tidak mendapatkan tiket kereta itu. Juga kereta-kereta lain yang menuju ke Jakarta.

Terlintas dalam benak saya untuk mencari penginapan di Kota Purwokerto dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta esok hari dengan menggunakan kereta Fajar Utama Jogjakarta atau Sawunggalih Pagi. Namun niat itu saya urungkan.

Stasiun Purwokerto, dini hari

Tiba-tiba saya ingin balik ke Klaten saja. Maka malam itu saya tidak jadi melanjutkan perjalanan ke Jakarta dan balik lagi ke Klaten dengan menggunakan kereta api Argo Lawu.

Gema adzan subuh menghias langit Klaten, saat saya kembali menjejakkan kaki di stasiun yang aku tinggalkan maghrib kemarin. Dua rokaat di musholla stasiun ku lalui dengan mata yang berat. Tak lupa wirid ku lantunkan, dan sepenggal do’a ku panjatkan kepada Ilahi Robbi. Kemudian dengan diantar tukang ojeg saya meluncur ke rumah.

Suasana lengang saat memasuki kampungku kembali. Dengan ditemani sayup-sayup suara adzan yang telat dikumandangkan saya terhenti sejenak di teras rumah. Rupanya istri dan anak-anak saya belum bangun. Saya mau mengetuk pintu agak ragu, karena ini pasti akan mengagetkan mereka. Persis di depan pintu, saya menelepon istri saya . . .

Saya diberondong berbagai pertanyaan oleh istri dan ketiga anak saya, ada apa kok balik lagi ? Anak saya yang nomor tiga biasanya paling susah dibangunkan subuh, pagi itu nampak kaget,”Saya kira tadi ada perampok,” celetuknya disambut tawa seisi rumah. “Sudah sana ke masjid dulu, mumpung belum komat,” kata saya kepada anak-anak. erekapun berangkat menuju masjid yang berjarak sekitar tiga ratusan meter dari rumah kami.

Dan pagipun menjelang. Semburat kekuningan memancar dari ufuk timur. Burung-burung ramai bersahutan membelah pagi, seakan tidak terpengaruh oleh gerimis pagi yang mulai berjatuhan. Mata hari enggan menampakkan kegairahannya, maklum musim penghujan. Namun sekalipun hari-hari di musim ini nampak kurang bergairah, bagi kami para penangkar burung, musim hujan adalah musim berkah. Di musim ini burung-burung cenderung aktif berproduksi, kecuali burung-burung yang tidak tahan dingin seperti burung kenari, love bird, dan berbagai jenis burung impor khususnya dari Afrika. Maka bagi penangkar burung jenis jalak, cucak rawa, kacer, dan murai batu, musim penghujan adalah musim datangnya rejeki . . .

Tak terasa setengah hari saya lalui hariku bergelut dengan urusan kandang. Memberi pakan, mengganti air mandi burung, mengecek telur dan beberapa kali menerima telepon soal burung jalak bali dan membalas WA yang masuk ke telephon. Itulah hari-hariku saat saya berada di rumah.

Siang hari sambil menjemput anak pulang sekolah saya mampir ke stasiun untuk membeli tiket kereta api Senja Utama Jogjakarta. Alhamdulillah tiket masih banyak, maklum ini hari Senin tiket kereta jurusan ke Jakarta dan Bandung memang masih banyak. Beda dengan hari Minggu. Di hari Minggu tiket kereta api dengan tujuan ke dua kota tersebut selalu ludes, bahkan  beberapa pekan sebelumnya.

Minggu sore saya berangkat lagi. Malam itu saya kembali menyusuri rel kereta yang sama. Dengan menggunakan kereta yang sama, namun Alhamdulillah dengan nasib yang berbeda dengan perjalanan sehari sebelumnya.

Saat pemeriksaan tiket dan melintasi stasiun Wates saya kembali teringat pada dua momen yang telah memberiku “pencerahan” dalam hidupku kemarin; di mana hidup ini memang tidak sepenuhnya pararel dengan kehendak kita. Ada saatnya kita bakal dihadapkan pada kondisi yang sama sekali tidak kita kehendaki. Maka menyiapkan mental untuk bisa menerima semua keadaan yang terjadi, menjadi “lifeskill” yang semestinya kita miliki. Apa lagi sebagai tukang burung, hal itu sangat penting . . . agar kita bisa menjadi tukang burung yang tahan banting.

Duduk di sebelah saya, sebut saja Pak Rudi. Beliau baru tiba dari Temanggung untuk urusan mobil innova miliknya yang digadaikan temannya tanpa sepengetahuannya. Dua belas hari beliau melacak temannya yang awalnya beliau ketahui berdomisili di Bantul Jogjakarta, namun ternyata sekarang sudah menjadi Lurah di salah satu desa di Kabupaten Temanggung itu. Urusan mobil tidak selesai, beliau kehabisan bekal karena harus hidup di rantau orang tanpa sanak tanpa family, akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke Pamulang Tangerang Selatan dengan tangan hampa. Dalam hati saya bersyukur tidak mengalami kejadian seberat beliau.

Minggu, 15 Maret 2015

AHA Breeding Klaten : Penting Untuk Semua Penghobi Burung Jalak Bali


Sehubungan dengan maraknya penipuan secara online, termasuk penipuan dengan modus jual beli burung, dengan ini kembali kami mengingatkan saudara-saudaraku penghobi burung agar senantiasa berhati-hati dalam melakukan transaksi.

Jangan lupa untuk selalu melakukan kontak langsung dengan penjual atau pembeli, jangan bosan untuk terus melakukan check and recheck. Ini terutama jika penjenengan dalam posisi sebagai pembeli dan sudah positif akan mentransfer uang pembayaran burung.

Wabil khusus kepada saudara-saudaraku yang akan membeli burung jalak bali ke penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" kami selaku pemilik dari penangkaran tersebut memberitahukan hal-hal berikut :

1.       Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" tidak memiliki cabang ataupun agen di tempat lain dan hanya memiliki satu tempat penangkaran yaitu di kota Klaten Jawa Tengah;

2.      Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" tidak memiliki team pemasaran, selama ini pemasaran hanya berada di tangan satu orang saja yaitu bapak Syamsul Hadi alias pak Syam;

3.      Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" hanya menggunakan no hp milik pak Syam yaitu 081280543060, 087877486516. WA 081280543060 Pin BB. 53E70502, 25D600E9;

4.      Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" tidak melakukan deal dalam transaksinya kecuali dilakukan melalui kontak langsung dengan pak Syam terlebih dahulu;

5.      Penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" dalam bertransaksi   hanya menggunakan rekening bank tertentu. Nomor rekening bank akan kami sampaikan setelah ada kesepakatan antara kami sebagai penjual dan Saudara sebagai pembeli;

6.      Untuk itu jika Saudara akan membeli burung jalak bali ke penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" maka pastikan bahwa Saudara benar-benar mengontak pak Syam ( bukan orang lain ) dan pastikan bahwa saat Saudara mentransfer pembayaran burung, Saudara mentransfer ke nomor rekening bank yang kami sampaikan ( bukan nomor rekening yang lain );

7.      Jika ada transaksi yang mengatas-namakan penangkaran burung jalak bali "AHA Breeding Klaten" namun tidak sesuai dengan ketentuan di atas, maka bisa dipastikan bahwa transaksi tersebut bukan dari kami. Sehingga segala konsekwensi yang timbul otomatis tidak menjadi tanggung jawab kami.

8.     Transaksi paling aman adalah COD alias copy darat, yaitu datang ke tempat saya di Klaten, tapi jika tidak memungkinkan, terpaksa melalui jalur online dengan tetap tidak meninggalkan kewaspadaan. Sekian terima kasih. Salam kicau !!!