tulisan berjalan

Kontak Pak Syam WA 081280543060

Rabu, 14 Januari 2015

AHA Breeding Klaten : Lanjutan Misteri Rejeki ( Cerita dari Tukang Burung Jalak Bali )

Oleh : pak Syam (penangkar burung jalak bali klaten)


Seharian kemarin, saya mengalami beberapa peristiwa yang mengusik hati. Peristiwa-peristiwa tersebut benar-benar mengena di hati yang sekaligus juga semakin menegaskan keyakinan saya terkait rejeki. Rejeki dari sisi misterinya.

Setelah pagi harinya saya dikejutkan dengan datangnya rejeki karena Mas Joko Jogja orang yang saya kenal baru sebatas nama tiba-tiba mentransfer sejumlah uang untuk pembelian burung jalak bali, sebagaimana saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya.

Sore ini saya di kabari oleh istri saya via telepon ( posisi saya masih dirantau orang) bahwa ada burung  jalak bali saya yang kabur dari kandang. Itulah yang saya maksud sebagai peristiwa-peristiwa yang mengusik hati di kalimat awal tulisan ini.

Dalam telepon dia bercerita bahwa sepulang dari arisan ibu-ibu di kampung, dia dikejutkan oleh burung yang terbang di dalam rumah kami. Melihat burung yang lepas dari kandang tersebut buru-buru istri saya menangkapnya untuk dimasukkan ke dalam kandang kembali.
Nah pas dia memasukkan burung tangkapannya tersebut, dia merasa ada keanehan. “Bukannya di kandang ini ada empat ekor anakan jalak bali, kenapa sekarang tinggal tiga. Berarti yang terlepas bukan satu ekor, tapi dua ekor” kata istri saya bergumam sendirian.

Selanjutnya, seisi rumah dikerahkan untuk mencari burung yang satunya. Seluruh sudut rumah digeledah untuk memastikan dimana gerangan dia berada. Kandang belakang, kandang tengah, kamar mandi, gudang tempat menyimpan barang dan menggantung kandang anakan burung jalak bali, dapur dan seluruh kamar digeledah. Hasilnya ? Nihil. Tak ada burung jalak bali yang diketemukan di sana.

Mungkinkah anakan jalak bali kami kabur keluar rumah ? Bukankah seluruh lobang yang dimungkinkan bisa menjadi jalan keluar bagi burung-burung kami yang lepas sudah kami tambal dengan kawat strimin, sehingga jika mereka berhasil keluar dari kandang mereka tetap tidak bisa kabur untuk melarikan diri ?

Ooo . . .mungkin dia melarikan diri lewat pintu tengah. Itu kesimpulan kami sementara. Pintu tengah memang tidak kami tutup dengan kawat strimin, karena pintu ini menjadi pintu utama bagi masuknya anggota keluar ke bagian belakang rumah kami.

Bagi seorang penangkar burung seperti kami, kehilangan burung sebenarnya merupakan hal biasa. Burung mati, dimakan tikus, burung terbang atau burung dicuri maling adalah sederetan pengalaman yang sangat lazim di alami oleh penangkar burung seperti kami.
Berbagai upaya telah kami lakukan; bagaimana caranya meminimalisir terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut.

Kematian burung, sering terjadi pada burung yang masih kecil. Hal ini kami minimalisir dengan cara melakukan perawatan sebaik-baiknya terhadap anakan burung. Menghindarkan burung dari perubahan cuaca drastis, memberi pakan yang cocok jenis maupun takarannyanya dan tepat waktunya saat meloloh ( ngloloh piyikan tiap 2 jam sekali ) adalah sederetan contoh dari upaya kami dalam meminimalisir kematian pada burung-burung kami.

Mengganti kandang kayu dengan kandang yang berbahan besi, meletakkannya di dalam ruangan yang tertutup, menutup kandang dengan kerodong serta meracun tikus adalah tindakan-tindakan yang kami lakukan untuk menyelamatkan burung dari gangguan predator semacam tikus, kucing atau bahkan ular.

Eehh . . . Dulu pernah loh tiba-tiba burung jalak suren kami hilang dari kandang. Dan dua hari kemudian kami temukan ular dengan perut yang menggelembung, sedang melingkar di kamar anak kami. Rupanya burung jalak suren kami telah dimakan ular. Hiii . . . .ngeri ya . . .
Terus kami juga melakukan pengamanan burung dengan cara memasang teralis yang dilengkapi dengan kawat strimin untuk menghindarkan burung dari kemungkinan kabur dan dari tangan-tangan jahil pencuri burung.

Berbagai usaha telah kami upayakan agar burung tidak mati atau kabur dari rumah. Namun begitu kami masih mengalami persoalan-persoalan yang tidak kami inginkan seperti burung mati, kabur dan lain-lain. Sebagaimana kaburnya burung kami sore tadi.

Malam harinya setelah isya’ saya telepon balik istri saya. Saya menanyakan apakah burungnya sudah ketemu. Ternyata belum diketemukan.

Lama kami mengobrol lewat telepon tentang kemungkinan kira-kira di mana burung itu ngumpet. Kami masih yakin bahwa burung itu belum keluar dari rumah karena berbagai sekat yang kami buat cukup menyulitkan bagi burung yang lepas kandang untuk bisa kabur meninggalkan rumah kami. Apa lagi bagi burung trotolan semacam burung jalak bali kami yang lepas ini.

Butuh berbagai strategi dan keberanian untuk terbang kesana-kemari agar bisa menemukan celah untuk kabur melarikan diri. Dan saya kira burung seusia dia belum memiliki kemampuan dan keberanian untuk melakukan itu. Sehingga saya tetap yakin bahwa sebenarnya burung itu belum kabur meninggalkan rumah kami. Tapi burung itu ada dimana ? Seluruh ruang dan sudut di rumah kami sudah digeledah, nyatanya burung tersebut tidak juga diketemukan.

Tiba-tiba insting saya sebagai penangkar muncul. Saya keluar ke halaman setelah tengak-tengok ke kanan dank e kiri, mata saya tertuju ke pohon mangga milik tetangga saya. Mungkin burung saya nangkring di pohon itu. Saya menghampiri pohon mangga madu milik tetangga. Mata saya menyelidik ke seluruh bagian dari pohon itu. Di tengah keasyikan saya menelisik keberadaan burung di atas pohon mangga tersebut saya dikejutkan oleh suara yang sangat saya kenal. Ya . . . itu suara pak Kusno tetangga kami yang sedang bercengkerama dengan istrinya.


“Bu . . .saya tadi ketemu si Margono tukang becak itu. Dia bergembira sekali. Dia baru saja mengantarkan anaknya membeli tas sekolah seharga 150 ribu, pulang sambil menenteng sebungkus sate kambing untuk makan malam keluarganya. Tadi sore dia mendapatkan burung. Ada burung yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya. Terus dia tangkap dan dijual ke temannya, si Hendra itu . . . harganya 200 ribu,” cerita pak Kusno panjang lebar kepada istrinya. “Ha . . .mahal sekali pak. Masak harga burung lebih mahal dari ayam jago’” tanya istrinya keheranan. “Burungnya bagus bu . . .bulunya putiiiihh di ujung sayap hitam dan ekornya putih ada hitamnya,” kata suaminya menerangkan. “Iya . . . tapi kan burung itu kecil masak lebih mahal dari ayam jago yang gede itu,” bantah istrinya.


Mendengar percakapan kedua orang tuanya, si Rudi anak kesayangan mereka menimpali “ Saya tadi melihat pak Hendra menjual burung putih itu ke pak Gatot bakul burung yang di ujung gang itu pak. Kata pak Hendra dijualnya dengan harga miring karena untuk membayar angsuran motor. Dibelinya satu juta pak,” kata Rudi penuh semangat. “Halah kamu . . .” kata ibunya tidak percaya. “Eh . . .bener bu . . .pak Syam tetangga kita itu kalau menjual burung harganya juga berjuta-juta bu.” kata Rudi tidak mau kalah. “Yang dijual pak Syam itu kan burung jalak bali,  bener harganya mahal sampai berjuta-juta. Sampai belasan juta malah,” kata pak Kusno menimpali.

Mendengar percakapan itu, badan saya terasa lemes. Itu pasti burung saya yang terbang sore tadi. Secepat itu burung berpindah-pindah tangan. Dari pak Margono ke Pak Rudi, ke pak Gatot si bakul burung.

Mungkin burung itu sekarang sudah berpindah ke konsumen pertama terus dibeli temannya terus ke mana lagi saya tidak tahu. Mungkin sekarang sudah pindah ke tangan ke empat ke tujuh atau tangan ke sebelas . . . .

Begitulah liku-liku kehidupan penangkar burung. Liku-liku kehidupannya kadang memang zigzag seperti halnya jalan rejeki. Setelah pagi harinya dapat rejeki, sore harinya burung saya lepas dari kandang. Semua kejadian ini tentu bukan berdiri sendiri, bisa saja hal ini memang menjadi bagian dari mekanisme perjalanan rejeki. Mungkin begitulah salah satu cara Tuhan membagi rejeki.

Lihatlah Margono si tukang Becak. Saat dia kebingungan mengatasi masalah bagaimana caranya mengganti tas sekolah anaknya yang sudah robek-robek, tiba-tiba ada burung datang masuk ke dalam rumahnya. Ini burung dari alam. Karena di alam maka burung ini tidak ada pemiliknya. Maka dia tangkap terus dia jual. Maka sekarang beres deh urusan tas anaknya.

Juga pak Hendra. Saat tagihan kredit sepeda motornya sudah mendesak untuk dibayar, dia dapat peluang bisnis menggiurkan. Datang pak Margono untuk menjual burung bagus dengan harga murah. Instingnya sebagai tukang kredit segera muncul. Maka dibelilah burung bagus itu seharga 200 ribu. Kemudian dia jual burung itu ke Pak Gatot seharga satu juta. Dia merasa sangat beruntung karena kulakan burung seharga 200 ribu dijual satu juta rupiah. Dia untung 400%. Lunaslah tagihan kredit kotornya.

Demikian juga dengan pak Gatot. Sebagai bakul burung dia faham. Ini adalah burung jalak bali. Harganya mahal. Pas pak Hendra menawarkan harga satu juta seratus ribu, dia pura-pura menawar satu juta rupiah. Eeeehh . . . ternyata di kasih . . .Setelah itu dia memiliki kemungkinan untuk menjual dengan harga yang tentu saja berjuta-juta sebagaimana yang biasa dilakukan oleh pak Syam . . . .

Saat itu sesuatu telah terjadi. Di saat pak Syam tidak tahu harus berbuat apa tiba-tiba alarm handphonenya yang meraung-raung. Pak Syam terbangun dari tidurnya. Rupanya sudah jam 03.15 dini hari. “Oh mimpi yang aneh,” bisik pak Syam pada dirinya. Rupanya pak Syam ketiduran sesaat setelah menelepon istrinya ba’da isya’ tadi . . .

Itulah akibat dari terlalu memikirkan burung yang hilang, sampai-sampai memasuki alam mimpimya. Harusnya dia berfikir bahwa persoalan burung itu hanya persoalan kecil. Persoalan sekecil itu harusnya segera dilupakan, jangan sampai merasuki hatinya. Kata orang-orang di pengajian, itu salah satu tanda hubud dun-ya yaitu cinta dunia yang melebihi takarannya . . . Waduuuhh . . .hubud dun-ya . . .???

Bukankah para kasepuhan kita telah mengajari kita agar jangan sampai memasukkan harta ke dalam hati, karena sesungguhnya kita cukup meletakkan harta itu di tangan kita saja. Seperti kata sebuah syair nasyid dalam album perdana group Azzam Semarang “ Genggam nikmat dunia, bukan untuk disimpan di hati. . . . . . Surga tempat kembali, yang abadi”
Pak Syam turun dari ranjang. Mengambil air wudhu, selanjutnya sujud bersimpuh di atas sajadahsampai adzan subuh berkumandang dari masjid sebelah rumah . . . ihdinashshirotol mustaqim . . . . (life is beautiful). (pak Syam penangkar burung jalak bali klaten Hp. 081280543060, 087877486516, PIN BB 53E70502, 25D600E9)

Tidak ada komentar: