tulisan berjalan

Kontak Pak Syam WA 081280543060

Senin, 17 Februari 2014

Jalak Bali Klaten : Jalak Bali Produksi 3 kali dalam 40 Hari, Mau ?


Anda berbangga karena telah mencetak sepasang indukan burung jalak bali berproduksi dalam waktu 24 hari ? Tentu dong . . . banngga banget. Eh . . . kok bisa 24 hari sekali sih ?
Ceritanya begini. Anakan jalak bali diambil dari sarangnya pada hari ke tiga. Setelah anakan jalak bali diambil, berikan ekstra fooding terbaik bagi indukan jalak bali. Bila anda beruntung seminggu kemudian indukan jalak bali bertelur lagi.

Nah kalau scenario pengkondisian indukan jalak bali ini berjalan lancar maka dalam waktu 24 hari ke depan, anakan jalak bali akan netes lagi.
Tapi ngomong-ngomong ada isu beredar di mana ada penangkar jalak bali yang bisa memperpendek durasi produksinya menjadi 40 hari 3 kali produksi lo. Wah kalau benar . . .ini joss tenan . . .
Banyak orang bilang, susah atau gampangnya menangkar burung jalak bali itu tergantung dari seberapa paham kita tentang perilaku burung jalak bali yang kita miliki dan seberapa lama kita berpengalaman menangani burung jalak bali tersebut.

Bagi yang sudah memahami burung jalak bali dengan baik dan berpengalaman menangani dalam mensetting jalak bali netes lagi dalam jangka waktu 24 hari, itu hal biasa.
Malahan pernah ada cerita dari seorang penangkar jalak bali bibir ember. Bibir ember maksudnya jadi penangkar jalak bali reputasinya belum nampak, tapi kondangnya sebagai penangkar burung jalak bali sudah cetar membahana ke mana-mana. Kalau dia ngoceh cengkoknya melebihi cucak rawa ropel jawara di Piala Raja.

Sebut saja penangkar jalak bali ini paman Gembul.

Bagi dia, 24 hari sekali panen anakan burung jalak bali,itu dianggap hal biasa. Gak aneh apa lagi luas biasa. Bahkan dia ngecap bisa membuat durasi produksi burung jalak bali menjadi jauh lebih pendek. “Saya bisa membuat burung jalak bali produksi 3 kali dalam 40 hari. Dan masing-masing produksi 4 anakan jalak bali,” sesumbarnya pada suatu hari.

“Ah yang bener bos ?” tanyaku terkaget-kaget.

“Lho aku sudah berhasil membuktikannya sendiri burung jalak bali bisa produksi lebih cepat” katanya dengan mantab.
“Boleh berbagi rahasianya gak bos. Punya ilmu gak boleh pelit lo bos” kata saya setelah mendengar dari penuturannya sendiri bahwa dia telah membuktikan menangkarkan jalak bali lebih cepat.

“Boleh!” katanya. “Begini” katanya sambil jigang di atas lincak teras rumahku. “Ada dua kunci utama kesuksesan penangkar burung jalak bali” dia meneruskan wejangannya sambil mengunyah pisang goreng sisa pakan cucak rowo kemarin sore.

“Satu . . . kenyamanan burung jalak bali dalam kandang. Yang kedua ekstra fooding buat burung jalak bali” dia menyeruput kopi hitam berkali-kali sampai membuat kulit tubuhnya menjadi tambah menghitam lagi he he he . . .

“Kenyamanan burung jalak bali ini wujudnya bermacem-macam; aman dari gangguan orang berlalu lalang, aman dari gangguan tikus jrontalan di atas kandang, aman dari udara yang lembab atau panas berlebihan, aman dari cahaya matahari yang terlalu kurang atau kebanyakan.

Terus ekstra fooding burung jalak bali mesti imbang antara jangkrik, uler hongkong, kroto dan cacing. Semuanya mesti seimbang, tidak ada yang kebanyakan, tidak ada yang kekurangan. Semua mesti balanced”

“Balanced itu apa maksudnya . . .om Gembul ?” tanya saya gak mudeng. “Maksudnya sedikit-sedikit tapi rata, sedikitnya seberapa ya kamu sendiri yang tahu karakter burung jalak bali-mu. Masak burung jalak bali punya kamu sendiri kok tanya sama aku” jawab paman Gembul agak sewot.

“Halah . . .gitu saja marahhhhh . . .?” kataku meledek. “La kalau burung punya om Gembul nyetel ekstra fooding jalak balinya gimana Om ? tanyaku merayu.

“Kalau burung jalak bali punyaku gampang. Pagi Jangkrik 10 biji sama kroto 2 sendok teh . . .siang uler hongkong 2 sendok makan sama cacing 2 biji dipotong-potong . . . sore jangkrik 6 biji sama kroto 2 sendok teh itu saja” dia menjawab mantap.

“Dengan setelan seperti itu burung jalak bali bisa panen dalam 3 kali dalam 40 hari dan setiap kali panen anakannya berjumlah 4 ekor ? tanyaku.

“Iya!” katanya bangga.

“ Sejak kapan dan di kandang mana paman Gembul panen jalak bali . . . kok kata istri paman Gembul, jalak balinya belum pernah produksi !” tanyaku dengan maksud mengkonfirmasi.

“Sejak tadi malem . . . panen burung jalak bali dalam mimpi” kata om Gembul sewot sambil ngeloyor pergi . . .

“He . . .he . . . Om . .jangan pergi” cegahku, namun dia tetap saja ngeloyor pergi meninggalkan piring-piring kosong bekas wadah pisang goreng. “Dasar penangkar burung jalak bali stress . . .!” umpatku jengkel.

Saya percaya bahwa om Gembul itu sekedar ngarang.

Meski paman Gembul sekedar ngarang dan ngawur, namun ada yang patut diapresiasi. Di sini ada pesan yang tersirat di mana menangkar burung jalak bali itu bukan pekerjaan gampang. Beternak burung jalak bali butuhkan ketelatenan, butuh keuletan dan butuh terobosan-terobosan baru yang membuat ternak tambah produktif.

Tidak ada cara mudah, apa lagi cara instan. Ingat pesan orang bijak tempo dulu yang dikutip Ahmad Fuadi sebagai judul novel “Man Jadda Wajada . . . barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil”. Ini artinya semua butuh kesungguhan. Kesungguhan karena ada kerja berat di dalamnya.

Jalan sukses itu, jalan sulit, gronjal-gronjal dan mendaki. Ini rumus sukses di bidang apa saja, tak terkecuali dalam menangkar jalak bali.

Dalam hal ini saya menganjurkan anda untuk lebih mempercayai Ahmad Fuadi karena telah jelas hasil karyanya, dibandingkan dengan paman Gembul yang prestasinya tidak pernah menyembul sampai hari ini he he he . . . 


Tidak ada komentar: