tulisan berjalan

Kontak Om Breeder (Pak Syam) WA 081280543060

Senin, 06 Juli 2015

AHA Breeding Klaten : Menangkar Burung Jalak Bali, Sebuah Tips



Menangkar burung jalak bali saat ini menjadi pilihan wira usaha yang bagus. Sebagai salah satu alternative wira usaha menjatuhkan pilihan pada burung jalak bali juga cukup tepat dan menarik. Karena dari sisi nama, burung jalak bali memiliki brand tersendiri, dan dari sisi pasar burungnya burung jalak bali juga memiliki segmen pasar yang cukup mapan. Inilah dunia hobi yang berbalut bisnis. Ngeri-ngeri sedap . . .

Dan yang tidak kalah pentingnya juga adalah dari sisi teknis menangkarkannya ternyata juga relative sama dengan menangkarkan spesies jalak lainnya, seperti jalak suren dan jalak putih. Jadi tidak terlalu ribet. 

Yang membedakan dengan kedua spesies saudaranya tadi tentu saja pada harganya. Ini artinya menangkarkan burung jalak bali memiliki peluang yang lebih menggiurkan dibandingkan menangkarkan spesies burung jalak lainnya. Bagaimana meraih peluang itu ?
Berikut ini beberapa langkah yang harus anda lakukan saat anda akan pingin menerjuni wira-usaha menangkarkan burung jalak bali :

1.       Siapkan kandang.
Kandang penangkaran burung jalak bali berbeda dengan kandang burung kicauan yang umumnya berukuran kecil dan berbentuk kandang gantung. Kandang penangkaran jalak bali memiliki ukuran yang lebih besar dan ditanam secara permanen di tanah. Berapa ukuran kandang penangkaran yang bagus ? Sepanjang pengalaman saya dalam menangkar burung jalak bali, tidak ada patokan yang baku mengenai ukuran kandang. Kalau tidak ada patokan yang baku terus bagaimana cara kita menentukan ukurannya ? Ukurannya adalah kenyamanan burung jalak bali dalam kandang. Jika kita beraktifitas di depan kandang si burung jalak bali tidak terganggu berarti dia nyaman. Jika si burung jalak bali ketakutan atas kehadiran kita, artinya burung tersebut tidak nyaman. kalau tidak nyaman perlu dibenahi.

2.      Siapkan bibit burung jalak bali
Bibit burung jalak bali menjadi poin cukup penting dalam sebuah usaha penangkaran. Bibit burung jalak bali sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha penangkaran tersebut. Karena itu pilihlah bibit yang baik. Ciri bibit yang baik; burungnya sehat, usianya relative sama dengan pasangannya, makannya lahap, rajin mandi dan gemuk tapi tetap lincah.

3.      Pelajari cara perawatannya
Perawatan burung juga menjadi poin yang sangat penting dalam usaha penangkaran burung. Perawatan yang benar potensial membawa keberhasilan, sebaliknya perawatan yang tidak memenuhi standart akan berefek pada kegagalan penangkaran. Perawatan ini meliputi kebersihan kandang, pemberian pakan dan minum, pemberian tangkringan di dalam kandang dan lain-lain.

4.      Pelajari cara menangani burung usia kawin
Usia kawin bagi burung merupakan usia yang cukup rawan. Jika sepasang burung memasuki usia ini namun tidak ditangani dengan benar maka akan bisa menyebabkan mereka pisang ranjang alias gagal produksi. Maka dari itu bagi seorang penangkar burung mutlak mengenali kapan burung tangkarannya memasuki usia kawin sekaligus mempelajari bagaimana perawatan yang tepat bagi si “calon pengantin” ini. Bagaimana menyiapkan ranjang dengan cocok, memberikan menu pakan yang mendukung agar mereka bisa berproduksi dengan baik, membangun suasana yang kondusif bagi produktivitas mereka dan lain-lain.

5.      Pelajari cara merawat anak hasil penangkaran.
Menangani hasil produksi juga sangat penting. Penangkar burung jalak bali biasa memanen hasil tangkarannya secara beragam yaitu antara usia 3 – 8 hari. Saya pribadi biasa memanen hasil tangkaran pada usia 8 hari agar lebih mudah dalam perawatannya. Setelah dipanen maka anakan burung jalak bali berada dalam asuhan kita. Teknis mengasuh sangat berpengaruh terhadap masa depan si kecil. Karena itu mutlak diperlukan ilmu merawatnya.

Langkah-langkah di atas, merupakan persoalan umum yang mesti difahami oleh seorang calon penangkar burung jalak bali. Kalau bagi para penangkar burung jalak bali lima poin di atas harus sudah menjadi  ketrampilan mereka yang utama. Bukan lagi sekedar teori.

Bagaimana dengan para pemula ?

Bagi para pemula saya menyarankan agar sebelum mereka menerjuni dunia penangkaran burung jalak bali terlebih dahulu mencari mentor yang akan menjadi rujukan sharing bagi aktivitas penangkarannya. Atau minimal mencari penangkar burung jalak bali yang mau dijadikan tempat untuk bertanya setidaknya tentang lima hal di atas. 

Mentor atau tempat bertanya ini upayakan bukan sekedar orang yang mengetahui teori menangkarkan burung jalak bali, akan tetapi orang tersebut sekaligus memiliki pengalaman langsung dalam dunia penangkaran burung jalak bali. Jadi bagusnya memang dia seorang penangkar burung jalak bali. Dia mesti pelaku di lapangan.


Demikian sedikit tulisan dalam memulai penangkaran burung jalak bali. Saya tuliskan tips ini karena belajar dari pengalaman saya sendiri, di mana saat saya mengawali penangkaran burung jalak bali beberapa tahun lalu saya pernah tersesat dalam belantara KEBINGUNGAN. Karena ternyata menangkar burung jalak bali sekalipun secara teknis sederhana, namun kita tetap membutuhkan seseorang untuk berbagi saran terutama pengalaman dari para senior. 

Dan ternyata mencari senior yang mau berbagi ilmu dan pengalaman itu tidak sederhana. Karena tidak semua senior telaten dan memiliki waktu untuk melayani pertanyaan kita.
Selamat menangkar burung jalak bali, Semoga Allah menjadikan penangkaran anda sebagai wasilah untuk mencari rejeki yang halal, baik dan melimpah. Aamiin . . .


Penulis : Pak Syam, penangkar burung jalak bali Klaten Hp / WA. 081280543060


Selasa, 23 Juni 2015

AHA Breeding Klaten : Penangkar Burung Jalak Bali Klaten : Sedikit Panduan Dalam Membeli Burung Jalak Bali



Oleh : Pak Syam, penangkar burung jalak bali Klaten Hp / WA.  081280543060

Burung jalak bali merupakan burung cantik dan eskotik, oleh karena itu tentu saja dia sangat sangat menarik. Saking cantiknya, eksotiknya dan menariknya makanya tidak mengherankan jika burung jalak bali menjadi sangat menggoda untuk dikoleksi oleh siapapun.

Maka dari itu tidaklah mengherankan jika banyak penggemar burung yang penasaran dengan burung jalak bali. Rasa penasaran ini telah mendorong mereka untuk berburu ke pasar-pasar burung, pengepul dan pedagang burung maupun ke penangkarnya langsung. Sayangnya dalam perburuan tersebut tidak sedikit di antara para kicau mania tersebut yang berburu burung jalak bali bali tanpa perbekalan yang memadai. Lah piye to . . .berburu kok tanpa bekal . . .

Ooooo . . .jadi perlu bekal ya ? Lah terus bekalnya berburu burung jalak bali ini apa ? Perbekalan itu maksudnya pengetahuan tentang burung jalak bali itu sendiri dan pernak-pernik yang menyertainya. Pernak-pernik itu maksudnya adalah : legalitas burung, motif pembelian burung jalak bali ( apakah untuk ditangkarkan atau sekedar hobi ) layanan pasca beli ada apa tidak, integritas penangkar atau pedagangnya sudah teruji apa belum, tawaran harga kemurahan atau ketinggian, dan lain-lain.

Sangat disayangkan karena di lapangan banyak sekali penggemar burung yang tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang pernak-pernik di atas. Bahkan dari berpuluh kali pengalaman penulis melayani para calon konsumen, penulis menemukan mayoritas calon konsumen masih awam tentang burung jalak bali apatah lagi tentang pernak-perniknya tersebut.

Sekedar contoh, ada calon konsumen yang bercerita bahwa dia telah tertipu saat membeli burung jalak bali melalui online karena tergiur harga yang murah, ada yang mengaku telah membeli burung jalak bali namun ragu mengenai legalitasnya terkait dengan keaslian surat-surat atau dokumennya, ada yang curhat tentang kekecewaannya kepada pedagang atau penangkar yang tidak mau melayani konsultasi terkait dengan bagaimana cara menangkarkan burung jalak bali yang baik dan benar agar penangkarannya produktif. Dan seabreg pernak-pernik lainnya. Kasus-kasus seperti ini sangat sering saya temui.


Sebenarnya persoalan di atas tentu saja tidak boleh menimpa kita. Namun kenyataannya dari hari ke hari penulis masih menerima keluhan-keluhan serupa. Kenapa persoalan itu masih saja terjadi ?

Kalau menurut penulis kasus-kasus di atas masih terus terulang, karena masih banyaknya konsumen burung jalak bali yang awam terhadap burung jalak bali dan segala pernak-perniknya tersebut. Jadi ibarat kita mau belanja baju, kita tidak mengenal sama sekali merk baju atau celana yang akan kita beli. Maka bisa dibayangkan betapa bingungnya kita untuk menentukan pilihan mana yang bagus dan layak dibeli.

Belum lagi jika di pasar tersebut ada oknum pedagang yang tidak jujur. Jika ada pedagang yang tidak jujur, maka  tidak mustahil dia akan melakukan penipuan kepada calon konsumen. Dan calon konsumen yang masih awam tentu saja bisa menjadi sasaran empuk. Iya to . . . .Oleh karena itu maka mengenal jenis barang yang akan kita beli plus segala pernak-perniknya, menjadi pengetahuan yang mutlak untuk kita miliki.

Demikian juga jika kita akan membeli burung jalak bali, kita juga harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang burung jalak bali tersebut. Demikian juga dengan pernak-perniknya.

Khusus berkaitan dengan asal pembelian burung. Saran saya belilah burung jalak bali kepada pedagang yang memiliki integritas bagus. Atau jika anda akan membeli burung jalak bali untuk ditangkarkan maka usahakan untuk membelinya langsung kepada penangkar. Dan jangan lupa cek integritas dari sang penangkar dan kesediaannya untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam menangkar burung jalak balinya. Karena tidak semua penangkar bersikap terbuka terhadap ilmu dan pengalamannya.
Berikut ini sedikit panduan dari #JalakBaliKlaten :
  • Teliti sebelum membeli; jangan hanya terkecoh pada harga yang murah. Hal ini sangat penting, karena pada dasarnya burung yang bagus lazimnya berharga lebih mahal dibanding burung yang kurang bagus. Sangat jarang burung bagus tapi berharga murah. Karena sebenarnya prinsip dalam bertransaksi burung sama dengan bertransaksi barang pada umumnya; ada harga ada barang. Berhati-hatilah jika ada tawaran burung jalak bali yang murah. Cek legalitasnya, cek kejujuran penjualnya, cek kesehatan burungnya dan lain-lain.
  • Tetapkan motif membeli sejak awal; apakah membeli burung jalak bali untuk di jadikan peliharaan sebagai hobi semata atau membeli burung untuk ditangkarkan. Penetapan motif pembelian ini penting, karena perbedaan motif dalam membeli akan membedakana criteria burung yang akan kita beli. Jika kita membeli burung jalak bali untuk memenuhi hobi maka asal burungnya sehat, dan sedikit pengetahuan tentang bagaimana rawatan hariannya, itu sudah cukup.  Tapi jika motif kita dalam membeli burung jalak bali adalah untuk ditangkarkan maka kita masih memerlukan seabreg pengetahuan tentang lainnya. Baik yang menyangkut burungnya, managemen kandang ( bahan, ukuran, kenyamanan, sarang, pakan dll ), perawatan anakannya jika sudah berproduksi, perawatan trotolan  dan lain sebagainya.
  • Jika motif pembeliannya untuk ditangkarkan maka saran saya belilah burung langsung ke penangkarnya. Karena itu sejak awal tentukan penangkar mana yang akan anda jadikan rujukan. Hal ini sangat penting karena motif kita adalah menangkar. Sebagai penangkar baru, kita butuh back-up pengetahuan dan pengalaman dari penangkar senior. Maka sekarang tugas penting kita adalah mencari penangkar burung jalak bali yang bersedia untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam menangkar burung jalak bali. Jika kita telah menemukan penangkar yang bersedia untuk berbagi tersebut maka PR kita pada point dua di atas akan bisa kita selesaikan dengan happy ending. Insyaa Allah . . .  

Kamis, 09 April 2015

AHA Breeding Klaten : Penangkar Jalak Bali nDeso, Mental Kota, Hasilnya Joosss . . .


Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9


Berpuluh kali saya menerima sms, bbm, WA, telepon maupun kunjungan langsung dari para kicau mania untuk omong-omong soal penangkaran burung jalak bali. Ngomongnya kadang ngalor ngidul alias ke sana kemari, tapi under-underane nanti balik maning nang penangkaran burung jalak bali. Ibaratnya sejauh-jauh blekok terbang, kemana saja dia muternya dia bakal balik ke sawah juga. Biasanya begitu . . .

Setelah balik maning nang penangkaran burung jalak bali, obrolan wabil khusus akan mengerucut kepada tema “gimana caranya menjadi penangkar burung jalak bali yang joss . . . . ? Ini dia topic obrolan yang paling disukai oleh para penangkar jalak bali dan calon penangkar jalak bali yang berencana menerjuni dunia penangkaran.

Satu hal yang sangat sering saya temui dalam obrolan tersebut adalah seringnya saya mendeteksi adanya “penyakit mental sukses” dari para penangkar maupun calon penangkar burung jalak bali tersebut. “Penyakit mental sukse” ini adalah bahasanya orang kota. Dan kata orang-orang kota tersebut, jika penyakit tersebut masih bersarang dalam fikiran kita, maka impian untuk menjadi penangkar burung jalak bali yang josss . . . hanya sekedar mimpi semata. Waduh gawat . . .


Kata mereka “penyakit mental sukses” wujudnya berupa pikiran yang ngerecoki, ngganggu, nggandoli seorang penangkar untuk mengembangkan penangkarannya.
Dari mana saya bisa mendeteksi bahwa sebagian di antara mereka mengidap penyakit mental yang bakal menghalangi mereka untuk mewujudkan diri mereka menjadi penangkar burung jalak bali yang josss tersebut ?

Saya mendeteksi keberadaan mental penghalangan tersebut dari cara berfikirnya. Cara berfikir ini biasanya saya ambil dari cerita mereka sendiri. Atau dari pertanyaan yang mereka ajukan.

Misalnya begini. Ada seorang calon penangkar burung jalak bali dari Jombang Jawa Timur, sebut saja namanya Heru. Dia cerita bahwa dia sangat berkeinginan untuk menjadi penangkar burung jalak bali. Namun cerita yang panjang itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan yang menjadi pemutus keinginannya untuk menjadi penangkar burung jalak bali tersebut, begini “Kalau saya nanti menjadi penangkar, kemudian burung-burung saya sudah beranak pinak dengan banyak, apakah nanti saya bisa memasarkan”.

Mas Heru ini bercerita bahwa sepengetahuan beliau pasar burung jalak bali tidak seluas burung lain seperti burung dara, kenari, murai batu, kacer dan lain-lain. Karena potensi pasarnya tidak seluas burung-burung tersebut dan segmennya hanya kelas orang gedongan maka jika nanti beliau sudah berhasil mengembangkan burung jalak bali dalam penangkarannya maka dia akan susah sendiri karena dia pasti kesulitan untuk memasarkannya.

Kalau begitu fikiran penjenengan ya bagus, artinya penjenengan orangya berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dan itu bagus juga sih . . . Tapi dalam hati yang paling dalam saya memaknai kehati-hatian beliau ini sebagai penyakit mental sukses, karena saking hati-hatinya menyebabkan dia tidak jadi melangkah. Menurut saya sikap hati-hatinya kurang proporsional, sehingga malah berubah menjadi penyakit mental sukses.

Di lain waktu, seorang calon penangkar lainnya menceritakan keinginannya untuk menjadi penangkar jalak bali. Dengan bahasa halus dia mengatakan bahwa “saya minta bimbingannya pak syam”. Setelah bercerita panjang lebar akhirnya keinginannya untuk menjadi penangkar burung jalak bali yang josss . . .tersebut kepentok pada rasa takutnya sendiri karena menurut dia menangkarkan burung jalak bali itu sulit.

Karena menangkarkan burung jalak bali itu sulit maka dia khawatir jika sudah kadung membeli burung jalak bali yang berharga mahal itu nantinya gagal menangkarkannya. Untuk menghindari kerugian, mending investasi pada penangkaran burung yang harganya terjangkau tapi memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, seperti kenari atau murai batu biasa.

Ya . . . terserahlah, karena pada akhirnya keputusan untuk menangkarkan burung jenis apa, semuanya terpulang kepada penjenengan sendiri. Sama dengan kasus yang pertama di atas, dalam kasus ini saya juga mengkategorikan kekhawatirannya sebagai penyakit mental juga.

Calon penangkar burung jalak bali lain yang juga menceritakan kepada saya adalah calon penangkar burung jalak bali dari Batang Jawa Tengah dan Kediri Jawa Timur ( yang sedang mengadu nasib di Malaysia, sebagai TKI). Dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama beliau berdua menceritakan kasus pembelian burung jalak bali untuk ditangkarkan. Namun keduanya memeiliki nasib yang sama yaitu tertipu. Uang muka yang telah dia transfer menguap begitu saja karena paket kiriman burung tidak kunjung diterima dan penjual tidak bisa lagi dihubungi.

Dalam kasus ini saya mengkategorikan calon penangkar kita ini sebagai orang yang terkena penyakit mental sukses. Karena mereka berdua ini begitu mudahnya ditipu oleh seseorang yang mengaku pedagang burung jalak bali. Pancingan dari sang penipu langsung saja ditangkap begitu penjual menawarkan harga burung jalak bali dengan harga yang sangat miring. Harga yang ditawarkan kurang dari separoh harga burung jalak bali di pasaran. Demi didengarnya ada penjual burung jalak bali yang menjual dengan harga yang sangat murah maka dia langsung menyetuji. Inilah kesalahan mereka. Di sinilah penyakit mental sukses itu bersarang.

Jika mereka berdua tidak terjangkiti penyakit mental sukses, maka dengan melihat harga yang semurah itu, mestinya sang calon penangkar burung jalak bali segera menaruh curiga, bukan justru merasa mendapatkan keberuntungan.

Dalam prakteknya memang banyak calon penangkar yang berencana membel burung jalak bali yang mendasarkan keputusannya kelak kepada harga burung semata-mata. Dia hanya focus pada harga yang murah saja. Padahal sesuai hukum pasar bahwa harga bersesuaian dengan kualitas barang. Kadang memang ada sih, barang dengan kualitasnya bagus tapi dijual dengan harga di bawah standart. Namun hal ini tentu saja frekwensinya jarang.


Nah calon penangkar burung jalak bali kita kali ini, rupanya menganut prinsip ini. Mungkin mereka berdua berfikiran bahwa “Apa salahnya jika ada burung jalak bali berharga murah saya beli, toh kualitas burung jalak bali itu sama saja”. Maka dibelilah burung jalak bali berharga miring tersebut, namun ternyata dugaannya meleset, dia tertipu.

Rabu, 01 April 2015

AHA Breeding Klaten : Bahagia ala Tukang Burung ( Jalak Bali )


Oleh : Pak Syam, Penangkar burung Jalak Bali Klaten
Hp. 081280543060, 087877486516, WA. 081280543060, Pin BB. 53E70502, 25D600E9


Sabtu pagi kemarin cuaca cerah sekali, secerah hati pak Syam. Dengan rengeng-rengeng syair tanpo waton Gus Dur, pak Syam mengganti pakan dan minum burung jalak balinya. “Ngawiti ingsun nglaras syi’iraaaannn . . . kelawan muji maring peeengeran . . . kang paring rohmat lan kenikmatan . . .rino wengine tanpo pitungan” . . . begitu suara nyanyian pak Syam mengikuti suara bariton syi’iran Gus Dur.

Sabtu pagi memang hari istimewa buat pak Syam. Karena itulah waktu yang bisa dimanfaatkan buat berdekat-dekatan dengan si burung cantik jalak bali di kandang penangkarannya. Buat seorang penangkar burung jalak bali semacam pak Syam ini, berdekat-dekatan dengan burung jalak bali dalam penangkarannya bisa memberikan sensasi tersendiri. Itulah asyiknya menjadi penangkar burung jalak bali.

Kata pak Syam, penangkar burung jalak bali yang bisa menyertakan hatinya ke dalam aktivitas penangkarannya akan bisa menyulap aktivitas menangkar menjadi kegiatan yang terasa nikmat untuk dijalani. Saat membersihkan kandang, saat menggati pakan, saat mengganti air untuk minum dan mandinya burung, saat meloloh piyikan, saat membuat gelodok tempat sarang, saat mencari daun cemara untuk bahan sarang adalah sederetan kegiatan yang sebenarnya melelahkan tapi sekaligus mengasikkan. Bagi penangkar yang menyertakan hatinya dalam penangkaran maka kelelahan itu membawa kenikmatan. Setidaknya itulah yang selama ini dirasakan oleh pak Syam saat merawat burung-burung dalam penangkarannya.

Di tengah keasyikannya merawat burung-burung jalak bali di kandang belakang tersebut, istrinya memberitahu ada tamu yang datang. “Pak . . .itu ada tamu,” kata istrinya yang sedang memasak di dapur. “Bau tempe gorengnya . . .sedap nyeeee . . .” kata pak Syam yang terganggu dengan aroma tempe goreng yang menyeruak dari dapur. “Halah . . .bapak ini  . . . malah kayak si Upin saja, wong ada tamu kok malah ngurusi tempe goreng,” kata istrinya “Oh . . .lah ibu goreng tempenya pinter banget . . . sedap nyeee . . . he he he . .  .” jawab pak Syam sambil tertawa.

Sejurus kemudian kang Iwan shohib pak Syam di dunia perburungan, diantar istri pak Syam menemui di kandang belakang.

“Assalamu’alaikum pak Syam,” sapa kang Iwan yang segera disambut oleh pak Syam “Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.”

Setelah saling berbasa basi menanyakan tentang kabar masing-masing akhirnya mereka terlibat dalam pembicaraan yang serius, namun tetap dalam suasana santai. Sesekali terdengar canda tawa di antara mereka.

“Jadi begini pak Syam,” kata pak Iwan. “Ooo . . .jadi begitu kang Iwan,” jawab pak Syam menggoda. “Wah pak Syam ini . . .wong saya baru memulai cerita kok sudah di jawab,” kata pak Iwan memprotes. “La . . . penjenengan mengawali ceritanya dengan . . .jadi begini . . .ya saya jawab . . .ooo jadi begitu . . .he he he ‘” tawa mereka pecah bersama-sama.

“Pak Syam . . .serius nih . . .kenapa ya saya kok  merasa bosen dengan hidup saya,” kata kang Iwan Serius. “Bosen gimana . . . wah bahaya itu . . . kita hidup mesti bersemangat kang Iwan,” kata pak Syam tak kalah seriusnya.

“Saya merasa hidup saya kok begini begini terus . . . gak ada kemajuan . . . burung juga gak berkembang . . . indukan pada macet terus . . . harga jalak suren malah terjun bebas,” kata kang Iwan nyerocos terus. Sementara pak Syam dengan serius hanya menjawab “OOOooo . . .’” sebagai tanda tidak mengerti.


“Saya merasakan hidup ini hambar pak, agak ada variasinya, gak ada nikmatnya . . . tolong nasihati saya pak Syam !” pinta kang Iwan. Sementara pak Syam yang di mintai nasihat dari tadi hanya mengatakan “OOOooo . . . begitu ya ?” dia malah balik bertanya.

“Apa lagi masalah saya itu lo pak Syam . . . masalah saya hanya itu ituuu saja . . . paling masalah duit, masalah burung yang gak bertelur, burung yang susah pemasarannya . . . hanya itu ituuu saja . . . saya sampai bosen dengan hidup saya sendiri’” kata kang Iwan. Sementara pak Syam masih konsisten dengan jawaban semula,”OOOooo . . . begitu ya . . .?” pak Syam malah balik bertanya.

“Pak Syam ini gimana to . . .wong dimintai nasihat kok malah . . .OOOooo . . . begitu ya . . . kasih solusi dong,” kata kang Iwan sewot. “Kang Iwan . . . bukannya saya tidak mau membantu teman . . . tapi saya benar-benar tidak tahu saya harus berbuat apa. Saya sendiri juga tidak mengerti. Saya juga sering kok merasakan seperti yang sampean rasakan itu,” kata pak Syam serius. Kali ini memang serius, pak Syam benar-benar tidak mengerti apa solusi yang bisa diberikan kepada kang Iwan.

Sejurus kemudian, ada malaikat lewat,”Cling . . . aha . . . aku ada ide, bagaimana kalau kita silaturahim ke rumah pak Mudzakir . . . kita minta tausyiyah kepada beliau . . . saya yakin beliau bisa memberikan pencerahan kepada kita . . . beliau itu tukang kompor maksudnya suka memberi motivasi,” kata pak Syam yang gentian nyerocos. “Oke . . . saya setuju, kita kesana kapan ?” jawab kang Iwan tidak kalah semangatnya. “Kalau begitu besok pagi kita ke sana,” kata pak Syam yang di amini oleh kang Iwan.

Pagi ini sekitar pukul tujuh, pak Syam dan kang Iwan macak necis menuju masjid Raya Klaten. Loh kok pergi ke masjid Raya Klaten ? La kok tumben ?

Dengan mengendarai sepeda kumbang mereka nampak riang bersepeda bareng puluhan orang yang sedang menikmati car freeday menuju TKP di Alun-alun Klaten dan sekitarnya. Ya . . . setiap minggu pagi jalur sepanjang jalan Pemuda Utara, Pemuda Tengah dan Pemuda Selatan Kota Klaten, memang difungsikan sebagai area car freeday. Ratusan orang bahkan mungkin ribuan orang setiap Hari Ahad pagi tumpah ruah di jalan-jalan tersebut menikmati sejuknya udara pagi sambil cuci mata dan menikmati berbagai sajian kuliner di sepanjang jalan tersebut.

Tak terkecuali pak Syam dan kang Iwan, meski dengan tujuan untuk menghadiri pengajian Ahad pagi yang digelar di pelataran Masjid Agung (Masjid Raya) Klaten yang terletak di sebelah utara Alun-Alun kota Klaten yang pagi ini mejadi jantung yang menghubungkan urat nadi keramaian car freeday . . . Mereka berdua tampak menikmati sekali acara car freeday pagi ini. Maklum tukang burung, masuk kota.

Mereka berdua mendatangi pengajian Ahad pagi karena ada janji untuk bertemu dengan bapak Mudzakir, mubaligh kondang yang mengisi pengajian Ahad pagi kali ini. Sedianya beliau akan menyediakan waktu untuk konsultasi setelah pengajian selesai. Jika bukan karena sudah terikat janji mungkin mereka berdua akan lebih suka menikmati car freeday saja.

Singkat cerita, setelah muter-muter alun-alun sampai capek disambung dengan pengajian Ahad pagi sambil menahan kantuk selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka berdua menemui pak Mudzakir di aula lantai satu Masjid Agung (Masjid Raya) Klaten.


Dengan senyum khasnya Bapak Mubaligh kondang ini bertanya, “Ada apa to ada apa . . .kok seperti ada masalah penting,”

“Begini pak ustadz,” kata pak Syam memulai pembicaraan yang segera saja di sambut  pak Mudzakir,”OOOooo . . .begitu to.” Kang Iwan terkekeh yang diikuti tawa yang lain . . .